Tidak Ada Peninggalan Raja Sonbai III di Museum NTT

 

Putra Bali Mula

Museum Daerah NTT belum memiliki satupun peninggalan atau koleksi ontentik dari salah satu raja legendaris di Pulau Timor, Raja Sobe Sonbai III.

Kepala Museum Daerah NTT, Esau K. M. Ledoh, Senin (31/5) mengatakan keluarga maupun garis keturunan langsung Sobe Sonbai III maupun keturunan para panglimanya atau Meo sampai saat ini belum mengkonfirmasi ke publik dan negara soal itu.

Peninggalan sejarah dari Raja Sonbai III, kata dia, memang perlu disampaikan pihak-pihak tersebut untuk diketahui oleh publik.

Selain itu, tetua adat sebelumnya juga perlu duduk bersama membahas soal peninggalan-peninggalan Raja Sonbai yang dapat dipelajari masyarakat NTT.

“Terkait dengan koleksi Sonbai masih belum, karena itu masih pada zaman kefetoran sehingga kita harus cari tua-tua adat seperti Lisnoni, Koroh, ataupun Koenay yang mengetahui benda-benda milik Sonbai,” kata dia.

Barang-barang peninggalan perang dan senjata di Pulau Timor yang dipamerkan di Museum Daerah NTT diharapkan bisa merepresentasikan senjata milik Raja Sonbai.

“Itu hanya peraga tapi bukan yang dipakai oleh Raja Sonbai,”

Ia menegaskan keturunan Sonbai atau keturunan dari panglima Raja Sonbai perlu mengkonfirmasi jejak peninggalan Raja Sonbai seperti pakaian kebesaran hingga alat perang raja Pulau Timor ini.

“Buku sejarahnya ada di perpustakaan tapi bukti-bukti kepemilikan barang koleksi tidak ada karena tidak semua yang menyerahkan secara hibah kepada pemerintah. Barangnya ada tapi keluarga marga apa kita tidak tahu,” tambah dia.

Literatur mengenai tokoh-tokoh sejarah lokal NTT juga masih kurang ditulis dan diterbitkan kepada khayalak padahal banyak penelitian sejarah yang sudah dilakukan sejak lama di NTT.

Hal tersebut disampaikan Zakaria praktisi sejarah dari Universitas Nusa Cendana beberapa waktu lalu.

Pada tahun 1903 Sobe Sonbai III, kata dia, melakukan penyerangan melawan Belanda sehingga terjadi Perang Bipolo. Kemenangan diraih oleh Sobe Sonbai III dan karenanya memancing Belanda membuat serangan balasan terhadap Sobe Sonbai III. Serangan satu malam itu juga menyebabkan Desa Nunkurus terbakar.

Belanda geram akan hal tersebut sehingga mengerahkan kekuatan besar menggunakan tentara angkatan darat dan juga alat tempur angkatan laut dari wilayah pantai.

“Sonbai bertahan mati-matian di bawah komando para Meo (panglima) seperti Meo Toto Smaut yang hebat. Jadi tidak gampang Belanda menembus pertahanan Sobe Sonbai III,” lanjut Zakaria.

Belanda akhirnya masuk ke wilayah pedalaman Pulau Timor pada saat kekalahan Sobe Sonbai III di tahun 1905. Belanda juga membuat markas di wilayah Kapan, yang saat itu juga merupakan bagian dari Kerajaan Oenam, berkat kemenangan mereka atas Sobe Sonbai III.

“Mulai itu baru Belanda masuk sampai di pedalaman Pulau Timor. Sebelum itu mereka sama sekali tidak berani karena dihadang Sobe Sonbai III,” jelasnya. (bev/ol)

Leave a Comment