Tidak Semua Tahu, Indonesia Sedang Dalam ‘Perang’

 

 

Putra Bali Mula

Staf Ahli Menteri Komunikasi, Henri Subiakto, menyebut Indonesia berada dalam perang komunikasi terkait informasi menyimpang, ideologi dan doktrinasi melalui dunia digital. Tidak semua pengguna media sosial di Indonesia, kata dia, menyadari perang komunikasi ini.

Hal tersebut disampaikan Henri Subiakto, Kamis (20/5), dalam webinar bedah buku Pelangi Pemikiran Komunikasi Antar Budaya oleh Guru Besar Universitas Nusa Cendana, Aloysius Liliweri selaku penyunting.

Indonesia sebagai negara konsumtif dan pengguna internet terbesar, kata dia, dikepung oleh negara-negara yang memiliki pengaruh kuat dalam arus informasi di media sosial.

“Indonesia adalah ajang berbagai pemikiran dan ideologi yang ingin menancapkan pengaruhnya lewat media sosial,” kata dia.

Sebenarnya selalu ada permainan negara luar terhadap situasi politik dan informasi di Indonesia, jelasnya, dan Indonesia sejak dahulu jadi perhatian negara asing.

Pengaruh ini terlihat pada kultur, pandangan atau ide politik dan propaganda yang mencuat di media sosial dan ini dilakukan oleh negara seperti Amerika, Arab, bahkan China.

Negara demokrasi yang liberal seperti Indonesia telah membuka kebebasan informasi dan harusnya hati-hati akan ini. Hal ini dikarenakan kebebasan itu telah menjadi ruang masuknya ideologi trans-nasional. Nasionalisme dan nilai-nilai lokal sendiri dapat tergerus terutama pada generasi muda.

“Mereka memanfaatkan ruang itu untuk memecah dengan intoleransi atau mempengaruhi bangsa lain. Demokrasi dan HAM (hak asasi manusia) seringkali digunakan untuk berlindung dari kelompok ideologi berbeda yang ingin menggantikan Pancasila yang menyatukan keberagaman,” tukas Henri.

Ia melanjutkan, milenial harus paham betul bahwa media sosial sangat banyak mempengaruhi cara hidup, habitus, termasuk pola pikir. Radikalisme, terorisme juga mendapat ruang di media sosial. Media sosial saat ini, kata dia, adalah senjata. Situasi ini adalah perang yang tidak disadari banyak orang.

“Ini perang. Ini perang komunikasi,” tegasnya. (bev/ol)

Leave a Comment