Tiga Warga Desa Helebeik Sesalkan Pencabutan Meteran Listrik oleh PLN

Tiga warga Desa Helebeik, Kecamatan Lobalain, yang menyampaikan keluhan terkait pencabutan Kwh meter dengan alasan pelanggaran pindah persil dari Desa Kuli. Mereka ditemui di bilangan Kampung Biru, Kelurahan Mokdale, Jumat (30/07/2021) siang.

Frangky Johannis

Tiga warga RT 08/RW 04, Desa Helebeik, Kecamatan Lobalain, menyesalkan sikap PLN Rayon Rote Ndao yang melakukan pencabutan Kwh meter, sehingga sudah dua malam mereka hidup dalam kegelapan.

Kepada victorynews.id, di bilangan Kampung Biru, Kelurahan Mokdale, Jumat (30/07/2021) siang, Welhelmus Johanis Paulus, Yakob Balukh, dan Adrianus Paulus mengeluhkan bahwa pada Rabu (28/07/2021), tim dari PLN bersama aparat kepolisian mendatangi rumah mereka, dan mencabut Kwh meter dengan alasan bahwa ditemukan pelanggaran Kwh meter pindah persil dari Desa Kuli ke Desa Helebeik.

Menurut Yakob Balukh, dirinya tinggal di rumah kerabatnya Martinus Balukh yang sudah meninggal sejak tahun 2016 dan istrinya juga meninggal tahun 2020 silam. Ia merasa kaget saat petugas PLN datang mencabut meteran dengan alasan meteran atas nama orang lain di Desa Kuli.

Menurutnya, rumah Bapak Martinus Balukh tersebut sudah dipasang listrik sejak kurang lebih 10 tahun silam. Akan tetapi petugas PLN yang datang cabut Kwh meter katakan bahwa ada pelanggaran pindah persil dari Kuli ke Helebeik.

“Saya pikir tidak masuk akal karena koq bisa PLN dengan karyawan yang profesional dan menggunakan teknologi yang canggih, bisa salah memasang meter Kwh di rumah Bapak Martinus, dan belakangan baru dibilang tercatat itu milik Antoneta Suilima di Desa Kuli. Saya tidak bisa berbuat apa-apa karena pemilik rumah sudah meninggal,” ujarnya.

Welhelmus Johanis Paulus menambahkan, kondisi yang sama terjadi terhadap dirinya, setelah didatangi petugas untuk mencabut meteran Kwh dirinya merasa kaget karena awalnya pada tahun 2011 setelah pemasangan dan pulsa perdana hampir habis, dirinya pergi membeli
token. Namun, dirinya kaget karena meteran tersebut atas nama Junus Mbado di Desa Kuli.

Menurutnya, dirinya sempat menghubungi petugas PLN yang datang menggantung meteran di rumahnya Erik Tasi, namun dibilang tadak apa-apa, yang penting kaka dong isi pulsa saja, yang penting isi pulsa. Hal yang sama juga dikeluhkan kepada petugas yang datang foto meteran Kwh setiap 3 bulan sekali, namun jawabannya sama saja tidak-apa-apa, yang penting isi pulsa.

Adrianus Paulus yang mengaku meterannya atas nama An Suilima, warga Desa Kili itu juga menyesalkan kesalahan gantung meter oleh petugas PLN ini dibiarkan dalam tenggang waktu 10 tahun dan berbuntut klaim pelanggaran sepihak tersebut.

“Kami menyampaikan permohonan pasang baru dengan mengisi formulir dan disertai e-KTP. Proses selanjutnya PLN yang memiliki meter yang datang pasang sendiri, tetapi akhirnya kita disalahkan seolah-olah kita memindahkan meteran. Padahal meteran ini sudah terpasang dari tahun 2011 lalu oleh petugas PLN sendiri,” imbuhnya.

Ketiganya menjelaskan bahwa sudah mendatangi kantor Rayon PLN Rote, namun disuruh membayar denda pelanggaran sebesar Rp 1.300.000. Akan tetapi mereka keberatan karena kesalahan sebenarnya ada di pihak PLN yang tidak cermat memproses permohonan pasang baru saat itu.

“Melalui wartawan kami minta kebijakan PLN Rayon Rote agar bisa secepatnya membantu kami yang sudah dalam kegelapan dua hari ini. Kami bertiga juga sudah menghubungi Call Centre PLN jakarta dan dianjurkan untuk ke kantor PLN untuk memproses ganti nama, namun kembali oleh petugas dikatakan tidak bisa karena terjadi pelanggaran,” kata Adrianus Paulus.

Sementara Manajer PLN Rayon Rote Ndao Sabinus Taur yang hendak dikonfirmasi wartawan melalui telepon genggamnya 081339480382 dan 081236643177 tidak merespons panggilan. Hingga berita ini diturunkan belum ada respons dari beliau. (yan/ol)

Leave a Comment