Tim Posko Akui Warga Yang Tidak Mau Diisolasi Terpusat

Proses testing dan tracing oleh tim Posko Penanganan Covid tingkat kabupaten SBD kepada warga dusun Waikelo-Desa Radamata usai salah satu warganya terkonfirmasi positif Covid.

Frengky Keban

 

Penolakan mengikuti isolasi terpusat nyatanya tidak hanya terjadi di luar NTT saja, tetapi juga di berbagai daerah di NTT seperti di Kabupaten Sumba Barat Daya. Pasalnya, hingga Jumat (30/7) sore, ada 3 warga yang masih diminta oleh tim posko penanganan Covid-19 Tingkat Kabupaten untuk melakukan isolasi terpusat di tempat yang telah disiapkan usai ketiganya dinyatakan positif Covid-19.

“Ada 3 pasien yang saat ini sedang diupayakan dijemput oleh tim posko,”ungkap Ketua Posko, Matias Djenga kepada VN, Jumat (30/7) pagi tadi.

Ketiganya ungkapnya adalah warga kelurahan Weetabula yang sebelumnya dinyatakan positif. Upaya penjemputan itu sendiri tentu bukan tanpa alasan, selain untuk menghindarkan keluarga dari penyebaran Covid-19, juga ingin memastikan ketiganya tetap sehat selama isolasi terpusat.

“Diawal memang menolak tapi barusan dapat informasi lagi ketiganya sudah melakukan isolasi terpusat di salah satu tempat isolasi yang kami siapkan,”tambah Matias melalui pesan singkat melalui WhatsApp kepada media ini siang tadi usai diminta konfirmasi atas 3 pasien yang dinyatakan menolak dikarantina.

Kondisi semacam ini tidak hanya disampaikan oleh Matias, Ketua Tim Komunikasi Publik, dr. Margareta Selan pun demikian. Sebagai salah satu pihak yang terjun langsung di lapangan menjemput pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19, dirinya menyebut banyak warga yang enggan mengikuti isolasi terpusat. Keengganan ini sendiri tambahnya dilatarbelakangi oleh ketakutan warga jika kemudian dirinya dinyatakan positif Covid-19.

“Takut stigma negatif itu dilekatkan pada mereka sebenarnya, padahal karantina itu baik agar warga lain tidak tertular. Apalagi pengambilan sampel itu hanya bisa dilakukan selama kurun waktu 5 hari saja bagi mereka yang kontak langsung karena setelah itu tidak berdampak lagi.
Harus diakui kondisi yang demikian kadang membuat kami bentrok di lapangan. Untuk lokasi penolakan sendiri mungkin yang paling viral itu di Kalembu Weri kemarin tapi yang saya tahu itu hampir di semua wilayah di SBD,”katanya.

Tidak hanya penolakan, kesulitan lain yang dialami pihaknya juga saat melakukan testing terhadap warga seperti saat PPKM kali ini. Disebutkannya, sesuai aturan di PPKM level III, setiap harinya pihaknya harus melakukan testing sebanyak 256 orang namun hal itu belum bisa terealisasi.

“Masyarakat ogah mau ditesting atau tracing. Padahal kita punya alat dan petugas. Kami harap masyarakat tidak lagi takut soal ini. Lebih baik ikut proses yang ada ini demi kesehatan mereka dan masyarakat kita apalagi saat ini telah terjadi peningkatan kasus yang cukup tinggi di daerah kita,”tambah. (Yan/ol)

Leave a Comment