Tinus Tanaem ‘Predator’ yang Membunuh para Gadis tanpa Ampun demi Nafsu Bejatnya

Predator Yustinus Tanaem alias Tinus memperagakan adegan pembunuhan terhadap Nona Welkis, di Desa Batakte, Kabupaten Kupang, NTT, Jumat (28/5). Foto:yapi vn.

Predator merupakan julukan untuk menggambarkan jenis hewan buas dan liar yang selalu memanfaatkan kesempatan untuk memangsa makluk lainnya termasuk manusia. Sebagai binatang liar, predator tak pernah memberi ampun terhadap mangsanya meskipun dalam kondisi yang sangat lemah. Ia akan membunuh mangsanya tanpa ampun demi melampiaskan hasrat yang ada dalam dirinya.

Predator memang masuk dalam kelompok hewan atau binatang. Namun dalam kenyataannya manusia yang memiliki akal budi dan budaya pun ada yang bertindak seperti predator. Salah satunya adalah Yustinus Tanaem (41) alias Tinus.

Lelaki berbadan kurus itu tega membunuh dan memperkosa beberapa gadis yang tak berdosa. Gadis yang seharusnya dilindungi kaum pria justru disakiti dan dibunuh Predator Tinus.

Tinus selalu mencari kesempatan untuk memperkosa para gadis incarannya demi memuaskan hasratnya. Masuk keluar Penjara dengan kasus yang sama, namun tak mampu membuat Predator ini tobat.

Selama tahun 2021 saja, dia sudah menghilangkan Nyawa dua orang Gadis cantik dengan membunuh serta memperkosa saat mereka tak lagi berdaya.

Pada Bulan Februari 2021, Tinus membunuh dan memperkosa Marsela Bahas (18) seorang gadis cantik asal Kampung Tanaloko, Kelurahan Oenesu, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT. Tidak puas dengan itu, pada Bulan April 2021 dia mengulangi perbuatannya dengan membunuh dan memperkosa Nona Welkis (19), gadis cantik asal Takari di wilayah yang sama, namun di tempat yang berbeda.

Ada apa dengan Tinus, sehingga tegah berbuat kejam terhadap perempuan yang harusnya dilindungi dan disayangi. Bukankah Tinus juga lahir dari rahim perempuan?. Tetapi kenapa ia tak punya hati dan perasaan untuk melindungi dan mengayomi perempuan?. Tinus memang tak punya hati dan perasaan. Tinus layak dijuluki predator yang selalu memanfaatkan kesempatan guna melampiaskan nafsu bejatnya di saat sasaran yang menjadi incarannya sedang lengah dan lemah. Dasar Tinus predator!.

 

Rekonstruksi

 

Peristiwa memiluhkan dan menyayat hati yang menimpah Nona Welkis belum lama ini, dan korban lainnya dari kebejatan predator Tinus mendorong jurnalis VN, Yapi Manuleus untuk mengikuti proses Rekonstruksi yang dilakukan pihak Kepolisian Polres Kupang di Wilayah RT 08, Desa Batakte, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT, Jumat (28/5).

Iring-iringan Mobil Polisi yang membawa Predator Tinus dari wilayah Kota Kupang tiba di TKP tepat pukul 11:00 Wita.

Yustinus Tanaem alias Tinus pun diturunkan dari sebuah mobil Polisi. Dan dengan dijaga ketat aparat Brimob bersenjata lengkap, Predator Tinus mulai memperagakan adegan bagaimana dia membawa mendiang Nona Welkis saat itu.

Mulai dari pertigaan masuk cabang SMAN 1 Kupang Barat, Tinus memboncengi Nona Welkis dengan Sepeda Motor Yamaha Mio GT berwarna merah, menuju ke TKP yang berjarak kurang lebih satu kilo meter dari pertigaan ruas jalan utama.

Tiba di TKP tepatnya di pinggir jalan raya, depan sebuah gudang, Tinus pun mulai mengelabui Nona Welkis dengan alasan mau mengambilkan raport anaknya, sehingga ia pun mengajak Nona Welkis untuk mengikutinya.

Dalam sesi adegan itu, Sepeda motor milik Tinus pun diparkirkan di samping jalan tersebut dan keduanya berjalan kaki menuju ke TKP yang berjarak kurang Lebih satu kilo meter. Tinus membawa Nona Welkis melintasi Hamparan luas penuh karang dan rumput yang mengering itu. Mendiang Nona Welkis pun mengikutinya tanpa ada rasa curiga sedikitpun.

Tiba di TKP tepat di sebuah kali, Tinus pun memegang tangan gadis yang tak berdosa dalam sesi rekonstruksi itu, untuk mulai merayunya. Tempat tersebut sangatlah sepi dan jauh dari perumahan warga.

“Jangan Om Saya mau datang cari Kerja,” begitu kata Nona Welkis saat itu yang ditiru oleh Predator Tinus dalam rekonstruksi tersebut.

Tinus pun menjawab, “iya kita m**n dulu, habis itu baru cari kerja,” kata Tinus.

Tinus pun mengancam gadis tersebut dengan sebilah Pisau Dapur untuk membunuhnya kalau tidak bersedia melayani nafsu bejatnya.

Dalam sesi rekonstruksi itu, Nona Welkis sempat ingin merampas pisau yang dipegang Tinus. Namun gagal.

Gadis muda belia itu pun dicekik hingga ditikam menggunakan pisau tersebut sebanyak dua kali di bagian lehernya oleh Tinus sang Predator yang tak punya nurani tersebut.

Setelah itu, Tinus pun mulai menyetubuhi Nona Welkis yang sudah tak bernyawa. Tinus pun bergegas pergi meninggalkan lokasi itu, dengan membawa HP dan uang milik korban.

Hukuman Mati

Tindakan bejat dari Tinus menimbulkan amarah dari warga yang memadati lokasi rekonstruksi. Mereka berteriak agar Tinus dihukum mati. berteriak agar Tinus bisa dihukum mati.

Tinus dalam sesi rekonstruksi itu memperagakan 105 Adegan.

Kapolres Kupang AKBP Aldinan Manurung bersama bersama Kapolsek Kupang Barat Iptu. Sadikin hadir dalam rekonstruksi yang digelar. Kapolres Manurung menyatakan, semua sesi rekonstruksi tersebut menunjukkan, perbuatan Tersangka Yustinus Tanaem sangatlah Biadab, sehingga dia akan dijatuhi Hukuman Mati.

“Yang bersangkutan kita akan berikan sanksi yang paling berat, yakni Hukuman mati dengan Pasal 338 dan 340,” kata Kapolres Kupang, dan langsung disambut gembira oleh beberapa pihak keluarga maupun warga yang berada di lokasi itu.

“Puji Tuhan Pak terima kasih,” Kata warga tersebut.

Kapolres Kupang AKBP. Aldinan Manurung berjanji akan mengawal kasus tersebut hingga ke proses persidangan agar yang bersangkutan bisa mendapatkan hukuman mati. Dia mengimbau kepada masyarakat agar selalu berhati-hati dalam menggunakan media sosial.

“Jangan sembarangan mau menerima ajakan dari orang lain, baik itu hal yang menggiurkan atau menarik perhatian kita. Harus waspadai itu,” katanya.

“Para orang tua, haruslah terus mengontrol anak-anak kita. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” tutupnya.

Kapolres juga menjelaskan Yustinus dikatakan Predator karena dari hasil pemeriksaan, Yustinus alias Tinus juga diketahui melakukan intimidasi dan juga pemerkosaan terhadap beberapa gadis. Tapi karena tidak melawan maka para korban itu tidak dibunuhnya. (Yapi Manuleus/Yan/ol)

Leave a Comment