Transformasi Ekologi dari Ke-aku-an menuju Ke-kita-an

 

Oleh Yerem Tnomel
Seminari St Mikhael

 

MANUSIA modern kerap menjadi pembunuh ekologi. Pembunuhan yang dilakukan manusia modern terhadap ekologi dilakukan berangsur-angsur, bahkan tidak disadari bahwa ia adalah pembunuh ekologi. Di sini yang menjadi penyebab terjadinya pembunuhan ekologi tersebut ialah budaya hedonisme. Budaya hedonisme membuat manusia modern menjadi pribadi individulistik yang mana kehidupan sosial dijadikan sebagai batu loncatan untuk mencapai egoisme diri (ke-aku-an). Dampak akhir dari kebudayaan ini adalah memicu timbulnya pembunuhan ekologi.

Budaya hedonisme meletakkan sifat ke-aku-an yang sangat radikal sebagai sifat dasar dalam pribadi manusia modern. Hal ini membuat setiap individu modern memiliki hasrat untuk mencapai kenikmatan (kepuasan). Hasrat akan kenikmatan atau kepuasan menuntut setiap individu untuk berjuang mencapainya walaupun harus mengorbankan sumber daya manusia dan sumber daya alam. Hal ini dapat ditemukan di lingkungan sekitar bahwasanya daerah-daerah hijau dibabat habis guna membangun gedung-gedung berkaca, sampah yang berserakan di mana-mana, aliran air yang dicemari limbah cair pabrik, polusi udara akibat asap pabrik dan kendaraan-kendaraan.

Bertolak dari realitas tersebut, budaya hedonis telah menjadi bagian hidup dari manusia modern. Kepuasan manusia modern akan tercapai apabila kebutuhan hidup pribadinya tercapai. Misalkan memiliki rumah mewah dan kendaraan, mengonsumsi makanan yang instan, mengenakan perhiasan-perhiasan, wangi-wangan dan lain sebagainya. Manusia modern seakan-akan bersikap manut tanpa kesadaran. Setiap individu tanpa sadar telah menjadi pembunuh bagi dirinya sendiri karena tidak menyadari bahwa membabat hutan dapat mengurangi kualitas oksigen, menimbulkan banjir, persediaan air tanah berkurang dan lainnya. Selain itu pembuangan sampah unorganik secara sembarang dapat merusak kesuburan, limbah cair pabrik yang dibuang di aliran air dapat mencemari air. Bukankah semuanya ini akan kembali pada diri manusia itu sendiri?

Budaya hedonisme perlahan-lahan menghilangkan kesadaran diri manusia modern bahwa ke-aku-an dalam bertindak sekecil apapun itu telah merusak lingkungan alam. Alam kini semakin malang maka tidak heran apabila alam menjadi garang. Maka dapat dikatakan bahwa zaman sekarang telah menjadi masa di mana manusia dengan sifat ke-aku-annya akibat dari hedonisme merusak ekologi tanpa disadarinya. Perlu dipahami bahwa alam sama sekali tidak membutuhkan manusia, justru sebaliknya manusialah yang membutuhkan alam. Ketika alam itu mulai garang di situlah manusia mengalami kebinasaan. Sepatutnya setiap individu modern mengatakan aku pembunuh diriku.

Konsep ‘Ke-kita-an’

Konsep pemikiran kaum milenial adalah konsep pemikiran yang egoistis atau ke-aku-an. Demi mencapai kepuasan, mereka merelakan lingkungan hidup menjadi rusak. Sebagaimana diutarakan oleh FM Suseno bahwa manusia modern melihat alam semesta hanya dari sisi manfaat ekonomis. Cara manusia modern mendekati alam itu bersifat teknokrat yakni menempatkan alam sebagai obyek yang harus dikuasai dan diambil manfaatnya. Paus Yohanes Paulus II dalam ensikliknya yang pertama memberi peringatan bahwa manusia tampaknya sering “tidak melihat makna lain dari lingkungan alam selain apa yang berguna untuk segera dipakai dan dikonsumsi”. Di sini pusat perhatian dari seluruh proses pembangunan yang dilakukan manusia modern diarahkan untuk menambah poin dan koin kesejahteraan produksi. Laju pertambahan pendudukan yang tinggi dapat berimplikasi kepada kebutuhan terhadap alam yang juga meningkat. Alam dengan segala kekayaan dan keanekaragamannya dipandang sebagai objek materi yang digunakan sepenuhnya atas nama kesejahteraan manusia. Alam bukan lagi dipandang sebagai komunitas (community), tetapi sebagai komoditas (commodity) yang bernilai ekonomi. Alam tidak lagi ditempatkan sebagai subjek melainkan objek untuk pemenuhan kepentingan diri. Demi memuaskan hasrat memiliki dan menikmati, manusia mulai mengeksploitasi sumber daya alam.

Rusaknya alam berkaitan dengan moral manusia modern yang tidak beradab, yang mana pemahaman akan “aku” lebih diutamakan daripada “kita”. Manusia modern dengan sifat ke-aku-an yang sangat tinggi merasa bahwa tujuannya melakukan sesuatu ialah untuk memperoleh kepuasan atau mencapai kenikmatan diri aku itu sendiri tanpa harus memikirkan yang lain sebagai sesama yang bersama dalam alam. Motif utama penggerak manusia modern dalam bertindak atau berperilaku ialah kepentingan diri-aku. Dengan ciri keterpusatan pada diri (self-centredness), manusia modern merasa sebagai mahluk yang rasional lalu menempatkan dirinya dalam posisi superior dan alam ditempatkan pada posisi inferior. Paus Benediktus berusaha memberi penyadaran bahwa dunia ciptaan dirugikan tatkala aku lebih tinggi dari yang lain atau ketika tidak melihat apa pun kecuali diri aku itu .

Aku sebagai yang tinggi berpotensi mebunuh aku. Mengapa? Karena berdasarkan Laudato Si mengungkapkan bahwa tubuh kita-manusia tersusun dari partikel-partikel bumi; kita menghirup udaranya dan dihidupkan serta disegarkan oleh airnya . Oleh karena itu sifat ke-aku-an yang menguasai pribadi manusia modern semestinya mengalami tranformasi dari ke-aku-an menuju ke-kita-an. Ke-kita-an yang dimaksudkan di sini ialah konsep kepuasan dalam diri manusia modern yang tidak peduli akan “yang lain” atau “kepuasan egoistis” harus dirubah menjadi kepuasan yang turut memperhatikan kelangsungan hidup dari “yang lain” (kepuasan sosial) seperti: antarmanusia dan lingkungan alam. Kepuasan sosial tersebut hanya akan tercapai apabila id , ego dan superego sebagai kunci kepribadian dari setiap individu menjadi seimbang.

Leave a Comment