Umat Buddha Gelar Perayaan Waisak Perdana di Vihara Pubbaratana Kupang

Putra Bali Mula

 

Umat Buddha Kota Kupang melakukan perayaan Waisak, Rabu (26/5), di Vihara Pubbaratana Kupang. Ini merupakan perayaan Waisak perdana yang dilakukan di vihara tersebut.

Vihara ini baru dipergunakan awal tahun ini setelah sebelumnya menggunakan lantai tiga gedung FKUB NTT di Jalan El Tari Kupang.

Perayaan dilakukan secara sederhana di vihara tersebut yang dimulai pada pukul 18.00 Wita. Sementara detik-detik Waisak sendiri terjadi pada pukul 19.13.30 Wita.

“Maka sekitar jam 6 (18.00 Wita) kita mulai kebaktian atau Puja Bhakti,” kata Ketua Meghabudhi NTT, Indra Effendy, saat dijumpai VN di vihara tersebut usai ibadah.

Hari raya ini memperingati tiga peristiwa suci yaitu kelahiran Pangeran Siddharta Gautama, peristiwa Siddharta Gautama mencapai pencerahan sempurna menjadi seorang Budha dan mangkatnya Sang Buddha di usia 80 tahun.

“Ini yang kita sebut Tri Suci Waisak,” ujarnya.

Saat ini vihara masih dalam pengerjaan lantai dua dan atap. Saat Seroja lalu, vihara juga terdampak pada lantai dua.

“Semoga tahun ini selesai,” ujarnya.

Berdasarkan survei yang dilakukan pihaknya, kata dia, mendapati 100-an warga yang beragama Buddha. Untuk perayaan hari itu, lanjutnya, pembatasan ibadah juga dilakukan sesuai ketentuan protokol kesehatan saat ibadah hari itu.

“Kita duduknya berjarak satu meter,” kata dia.

Ibadah ini dawali dengan Pradaksina atau mengelilingi vihara sebanyak tiga kali, lalu Puja Bhakti dan meditasi selama 15 menit dan pelimpahan jasa yaitu melalui perbuatan baik bagi leluhur.

“Kita semua yang ada di dunia ini perlu terus mengingat dan memperhatikan ayah ibu kita atau kakek nenek kita yang telah mendahului kita. Itu inti dari pelimpahan jasa,” ujarnya.

Tahun ini, ungkapnya, merupakan tahun kedua semua umat dari berbagai latar agama lainnya melakukan perayaan keagaaman masing-masing di tengah Covid-19. Belum lagi Badai Seroja yang menerpa NTT beberapa waktu lalu.

Ia menilai setiap peringatan keagaaman memang memberikan suka cita namun juga perlu dimaknai dengan baik karena situasi yang ada.

Sebelumnya, umat Budha juga bersama dengan umat beragama lainnya ikut memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak Seroja. (Yan/ol)

Leave a Comment