Verba Movent, Exempla Trahunt (Eulogi untuk Mendiang Pater Yulius Bere, SVD)

Mario F Lawi (Penerjemah dan Editor Penerbit Dusun Flobamora)

SAYA terakhir kali bertemu Pater Yulius Bere, SVD ketika hendak berangkat ke Yogyakarta, pada Juli 2016. Saat itu, saya merupakan pengampu kegiatan ekstrakurikuler sastra di Seminari Menengah St.Rafael Oepoi, dan Pater Yulius masih bertugas di seminari. Beliau mengampu pelajaran bahasa Latin, sebuah pelajaran yang membutuhkan pengalaman mengajar para imam yang dididik dalam disiplin belajar bahasa seperti beliau. Pada pertemuan terakhir tersebut, beliau menceritakan sejumlah kisah pastoralnya ketika membantu pelayanan di Sabu pada awal dekade 90-an. Sabu adalah kampung halaman ibu saya, sekaligus tempat yang akan jadi lokasi pengambilan data tesis saya.

Ingatan paling lama tentang Pater Yulius bisa saya raih dari pengalaman ketika kami menjalankan retret tahun terakhir di seminari menengah. Setelah menyelesaikan Ujian Sekolah, kami, 46 siswa tahun terakhir SMA Seminari St. Rafael, mengikuti retret di Rumah Retret CIJ Buraen, pada 15-17 Mei 2009. Pater Yulius merupakan pembimbing rohani di St. Rafael, sehingga beliau memandu kegiatan retret tiga hari tersebut. Pada hari kedua, malam setelah kami melaksanakan adorasi Sakramen Mahakudus, Pater mengajak kami berdoa dan meletakkan lilin sebagai simbol doa dan harapan panggilan kami di depan patung Maria di gua Maria di luar kompleks rumah retret. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan kawan-kawan yang lain pada waktu itu, tetapi hal itu jelas tidak mungkin kami lakukan. Hujan di luar sedang deras, membuat udara Buraen bertambah dingin. Lilin kami jelas akan padam dengan mudah terkena hujan.

Meski demikian, kami tetap keluar mengikuti Pater yang telah lebih dahulu keluar membawa lilinnya. Kami mengikuti beliau dari belakang dengan waswas. Setelah beberapa langkah di lobi, hujan yang menderas tiba-tiba mereda, meski langit masih gelap dan menyembunyikan bintang-bintang. Sampai akhir doa kami di depan gua Maria, hujan tak lagi turun. Kedua pengalaman tersebut saya ingat kembali ketika pada tanggal 14 September 2021 saya menerima kabar bahwa beliau sedang sakit, dan sehari kemudian memperoleh kabar bahwa beliau telah berpulang, tepat pada hari raya Maria Dolorosa. Kesaksian tersebut hanya salah satu dari banyak hal yang dapat menunjukkan kesalehan beliau.

Beberapa kilas contoh lain: Orang-orang tua biasanya meminta air yang telah diberkati oleh beliau sebagai penyembuh demam anak-anak mereka. Pater juga sering diminta mendoakan orang-orang yang dirasuki. Beliau kerap mengisi perjalanan daratnya dengan berdoa, betapa pun jauh perjalanan tersebut. Sekali waktu, ketika stok kacang hijau, menu utama di seminari waktu itu, telah menipis, Pater meminta sekelompok anak seminari untuk ikut bersamanya mengambil kacang hijau di salah satu daerah di Belu dengan menggunakan bus seminari. Perjalanan darat sejauh ratusan kilometer tersebut mereka isi dengan berdoa rosario. Di seminari, beliau adalah pembimbing rohani yang sabar mendengarkan kisah dan berbagai persoalan anak-anak binaannya. Sebagai rektor pertama Seminari Menengah St. Rafael, sejarah seminari tak bisa dipisahkan dari pelayanan beliau.

Seminari Menengah St. Rafael Oepoi berdiri pada 15 Agustus 1984, ketika Keuskupan Agung Kupang berusia 17 tahun. Tidak seperti seminari-seminari menengah lain di NTT pada waktu itu, Seminari St. Rafael menerima siswa-siswa lulusan SMP untuk melanjutkan pendidikan di seminari. Pada tahun-tahun awal, para seminaris mengikuti kegiatan belajar di SMA Giovanni. Sedangkan pelajaran-pelajaran khusus seperti Liturgi, Kitab Suci, Sejarah Gereja, Bahasa Latin, Bahasa Jerman, Bahasa Inggris, Konseling dan Agama, diajarkan di asrama setelah waktu kegiatan persekolahan di Giovanni berakhir. Tahun pertama di seminari adalah tahun persiapan, sebelum mengikuti kegiatan belajar di Giovanni pada tahun berikutnya. Angkatan pertama Seminari Menengah St. Rafael berjumlah 15 orang, dengan 5 orang yang lanjut ke seminari tinggi, dan 1 orang yang ditahbiskan menjadi imam, yakni Rm. Leo Mali, Pr, imam yang akan merayakan 25 tahun sakramen imamatnya pada tanggal 29 September tahun ini. Tugas sebagai rektor/praeses Seminari Menengah St. Rafael diemban oleh Pater Yulius sejak seminari menengah didirikan sampai dua tahun setelah seminari memiliki SMA sendiri. SMA Seminari berdiri pada 20 Juli 1992, di awal tahun ajaran 1992/1993. Direktur pertama SMA Seminari adalah Rm. Krisostomus Taus, Pr. Pada tahun tersebut, siswa yang masuk kelas peralihan berjumlah 52 orang, dan 49 orang melanjutkan studi ke seminari tinggi, meningkat dalam jumlah dan persentase dari tahun-tahun sebelumnya.

Pater Yulius lahir di Asumanu, Belu, 5 Mei 1940, dan ditahbiskan menjadi imam pada 18 Juli 1971 di Katedral Atambua. Dalam banyak kesempatan, beliau menunjukkan devosi khususnya kepada Santa Maria. Pada tahun-tahun awal seminari berdiri, Pater Yulius yang juga merangkap jabatan prefek atau kepala asrama, menghadapi banyak keterbatasan. Hanya ada satu gedung panjang yang bisa disebut sebagai gedung serba guna. Gedung tersebut kemudian disekat menjadi beberapa bilik. Bilik pertama ditempati oleh Praeses. Bilik kedua adalah ruang tidur, ruang makan, dan dapur. Pada waktu itu, para seminaris menggunakan kapel pribadi uskup. Meski mengemban jabatan tertinggi di seminari, beliau justru melayani semua orang tanpa pandang bulu. Sarana transportasi pertama yang dimiliki seminari pada waktu itu adalah sepeda motor. Karena tak ada pengendara, setiap hari Pater mesti mengendarai motor tersebut untuk menjemput dan mengantar pulang para tenaga awam yang membantu di seminari. Untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut, beliau pernah menyampaikan, sebagaimana ditulis dalam Buletin Fontes, edisi I/XXI/2008, bahwa beliau selalu berdoa rosario. Doa rosario adalah kekuatan beliau dalam mengatasi tantangan. Menurut beliau, dalam banyak hal, umat Katolik memang harus bercerita kepada Bunda Maria, karena sebagai ibu, ia tentu mau membantu anak-anaknya yang datang kepadanya.

Kamis, 16 September 2021, Pater Yulius dimakamkan di Pemakaman SVD Biara St. Yosef Nenuk, Atambua. Sepanjang hidupnya, kebaikan-kebaikan yang diajarkannya lewat khotbah di mimbar gereja sebagai imam diaplikasikannya dalam pelayanan-pelayanan hariannya. Mudah bagi orang-orang untuk mengingat pepatah Latin “Verba movent, exempla trahunt”—kata-kata menggerakkan, suri teladan menarik, tetapi dalam seluruh perjalanan kehidupan orang-orang seperti Pater Yulius, pepatah tersebut menjelma jadi contoh nyata.

Selamat jalan, Pater. Teladan dan kebaikanmu membuat kami yakin bahwa hal-hal itulah yang akan membawa ziarahmu ke dunia yang baru, tempat bersemayam para kudus dan Bunda Maria yang kaucintai sepanjang hayatmu.

Leave a Comment