Sekolah Bukanlah Ukuran Kesuksesan (Sebuah Tafsir atas Novel Ilalang Tanah Gersang)

Oleh: Rafael L. Pura

 

Judul : Ilalang Tanah Gersang
Pengarang : Kopong Bunga Lamawuran
Penerbit : Kuncup (Malang)
Tahun Terbit : 2019
Tebal Buku : xiv + 266 Halaman
ISBN : 978-623-7283-29-4

 

NOVEL Ilalang Tanah Gersang merupakan karya ketiga dari Kopong Bunga Lamawuran. Sebelumnya, pengarang asal Flores Timur ini telah menghasilkan dua karya fiksi, yaitu novel Rumah Lipatan (Literat, 2012) dan antologi cerpen Perzinahan di Rumah Tuhan (Nusa Indah, 2017). Karya-karya sebelumnya ini syarat dengan kritikan-kritikan sosial, ketidakpuasan-ketidakpuasan atas realitas sosial yang kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk karya sastra.

Dalam Perzinahan di Rumah Tuhan, sejumlah cerita pendek mengisahkan tentang kehidupan para petani yang, dalam beberapa penafsiran, selalu ditindas oleh gereja. Atau kehidupan anak-anak yang tidak bisa mengelak antara bekerja untuk hidup ataukah bersekolah untuk meraih masa depan. Suasana kritikan serupa juga kita dapatkan dalam Rumah Lipatan, yang diterbitkan tahun 2012 lalu.

Dibanding dengan dua karya sebelumnya, novel Ilalang Tanah Gersang ini hadir dengan gaya penulisan yang lebih humoris, namun disertai dengan satu upaya pengungkapan atas potret kehidupan masyarakat yang menjadi latar penulisan novel ini. Humor-humor yang terkandung dalam novel ini tak hanya merupakan pemilihan kata-kata atau diksi dari pengarang, namun menurut saya, humor itu memang sudah terkandung dalam kehidupan para tokoh-tokohnya, terkhusus tokoh Daruk.

Mengenai gaya bahasa dan kehidupan penuh humor yang berada dalam novel ini, kita bisa sandingkan dengan novel Sepetak Rumah untuk Tuan Biswas yang ditulis oleh V. S. Naipaul. Novel ini menggambarkan secara gamblang kehidupan seorang tokoh yang bernama Biswas, yang penuh dengan perjuangan dan derita, tapi dijalani seolah-olah tak ada yang serius dalam kehidupan ini. Kedua novel ini menawarkan humor serupa. Yang membuat nuansa humoris itu muncul bukan hanya karena pilihan kata oleh pengarang, namun karena latar kehidupan para tokoh yang penuh optimisme namun serba terbelakang; rasa hero yang muncul dalam diri tokohnya; kehidupan pedesaan dan segala pola pikir yang terasa seru namun menjengkelkan. Namun, sebagai pembaca, kita perlu bertanya secara jujur terhadap diri kita sendiri: Apakah kita harus butuh humor atas kehidupan dalam sebuah karya sastra? Apakah tak ada lagi yang lebih bermakna dari novel itu selain sekadar rasa humor?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, perlu saya tuliskan alur singkat novel Ilalang Tanah Gersang ini. Novel ini menyoroti kehidupan seorang pemuda bernama Daruk. Pemuda ini telah putus sekolah sejak usia sekolah dasar. Karena itu, dia tidak mengenyam pendidikan formal seperti kebanyakan pemuda zaman ini. Pemuda ini bekerja dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, namun sepertinya selalu tidak beruntung. Sewaktu bekerja di Larantuka, dia bertemu dengan Golu, dan akhirnya mereka menikah?tanpa upacara keagamaan gegap gempita. Dari pernikahan itu, lahirlah Sili. Sili disekolahkan, kuliah, lulus, dan akhirnya bisa bekerja di sebuah kantor pemerintahan. Ini menjadi satu catatan penting, bahwa tanpa menempuh bangku pendidikan formal, seorang ayah bisa menyekolahkan anaknya dan menjadi sukses.

Dalam alur penceritaan, banyak hal tak menyenangkan yang dialami tokoh-tokoh utama. Daruk, atas keteledorannya sendiri, menyebabkan rumahnya terbakar. Dia pindah ke desa istrinya, bekerja apa adanya di tempat baru itu, dan perlahan-lahan membangun kembali perekonomiannya. Mengandalkan hasil mete warisan keluarga istrinya, mereka bisa mengumpulkan uang, dan mengirimkan kepada Sili untuk biaya kuliahnya. Selain menyekolahkan anaknya, Daruk juga memiliki satu impian mulai: Dia ingin membangun kembali rumahnya yang terbakar di kampung halamannya. Dan dalam segala kepolosan dan ketidaksempurnannya sebagai seorang manusia, dia akhirnya bisa membangun kembali rumahnya, di tanah kelahirannya sendiri. Agak sedih membayangkan, karena pada akhirnya Daruk meninggal beberapa saat setelah rumah itu berdiri kokoh.

Dengan berbagai cara, Kopong Bunga berupaya menggambarkan Daruk sebagai seorang tokoh yang tidak terlalu peduli dengan pendapat orang-orang sekelilingnya. Tokoh ini juga bukanlah seorang pemuda sukses, yang menamatkan sekolahnya pada sebuah kampus ternama. Tokoh ini dihadirkan apa adanya. Walau apa adanya, dia selalu menganggap dirinya lebih hebat dibandingkan orang lain. Dia juga tidak menganggap serius segala derita yang menimpahnya. Dia hidup, bekerja, dan punya beberapa impian untuk dia selesaikan sebelum akhirnya meninggalkan dunia fana ini.

Menurut saya, penggambaran karakter tokoh ini mau menunjukkan kepada kita satu hal, bahwa setiap manusia, entah dia seorang anak sekolahan ataupun anak pinggir jalan, selalu memiliki impian untuk digapai. Novel ini juga, dengan gaya penuh humor, mau menunjukkan kepada kita bahwa cara pandang kita melihat seseorang melulu dari tingkat pendidikan formal, bisa saja keliru. Ukuran seorang manusia bukanlah dari seberapa tingginya jenjang sekolah yang dia tempuh. Ukurannya, bisa jadi, adalah seberapa besar mimpi yang dia miliki, dan bagaimana caranya dia menggapai mimpi itu.

Sekolah, dalam pandangan zaman sekarang, merupakan satu pilihan hidup yang harus dilalui semua orang. Dan biasanya, orang-orang yang tidak mengenyam bangku pendidikan dinilai sebagai manusia yang gagal. Tapi, Kopong berhasil memotret sebuah kehidupan, dan meyakinkan kita, bahwa untuk menjalani kehidupan dan menggapai mimpi-mimpi, seorang tidak butuh dunia persekolahan. Dia bisa saja menggapai mimpi itu, asal dia bekerja untuk mewujudkannya.

Saya juga sependapat dengan Marianus Kleden yang memberikan pengantar untuk novel ini. Menurut Marianus Kleden, novel ini lahir sebagai satu sikap pemberontakan terhadap kemapanan-kemapanan yang terjadi dalam dunia sastra ataupun kehidupan. Hal ini dibuktikan dengan pemunculan tokoh-tokoh yang tidak ganteng, tidak berpendidikan, tidak mengikuti arus, dan tidak mau memerdulikan berbagai pendapat orang.

Kematian Daruk pada akhir cerita, bisa memberikan kita beberapa tafsiran. Dengan mematikan tokoh ini, pengarang menginginkan sejumlah sifat negatif yang dimiliki Daruk, tidak boleh diwariskan. Kematian juga bisa memberi kita batasan, bahwa inti dari semua perjuangan adalah untuk kebahagiaan orang lain. Daruk telah membangun rumah barunya, tapi dia akhirnya harus dimatikan dalam kisah ini. Walau dia mati, dia telah melakukan sesuatu dalam hidupnya. Kisah ini adalah potret perjuangan seorang pemuda tak berpendidikan formal, yang patut kita selami.

Novel ini sangat layak untuk dibaca oleh semua kalangan, karena gaya bahasa yang penuh humor, alur cerita yang cair, dan realitas kehidupan warga Witihama yang penuh gejolak. Selain itu, buku ini perlu dibaca untuk memahami berbagai aspek kehidupan manusia. Sebagai seorang pengarang, Kopong telah menawarkan sebuah kehidupan untuk kita renungkan, bahwa ukuran keberhasilan dan kesuksesan seseorang bukan dilihat dari seberapa tingginya bangku pendidikan formal yang dia tempuh. Ukuran kesuksesan adalah seberapa tinggi mimpi yang dimiliki seseorang, dan bagaimana dia berjuang untuk mewujudkannya. (pol/yan/ol)

Leave a Comment