Dinas PMD NTT Fasilitasi Mesin Pertanian dan Perkuat Bumdes

Viktor Manek, Kadis PMD NTT
Viktor Manek, Kadis PMD NTT

Putra Bali Mula

Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Provinsi NTT mempunyai berbagai program untuk meningkatkan kualitas desa dari berbagai sektor terutama ekonomi.

Kepala Dinas PMD NTT, Viktor Manek saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (22/9) mengatakan untuk 2021 program untuk pembangunan desa fokus pada empat bidang yakni pertama Kelembagaan dan Pengembangan Partisipasi Masyarakat (KPPM) yang menangani lembaga adat, posyandu dan desa model. Kedua,  Bidang Pemerintahan Desa menangani pemekaran dan pembinaan desa termasuk soal pilkades. Ketiga, Bidang PUEM atau Pemberdayaan Usaha Ekonomi Masyarakat menangani Bumdes dan identifikasi potensi desa. Keempat, Bidang Sarana Prasarana untuk memfasilitasi kebutuhan petani di desa seperti Teknologi Tepat Guna (TTG) yang dikembangkan di Balai Pelatihan TTG Noelbaki yaitu memanfaatkan mesin perontok padi yang hanya membutuhkan empat tenaga manusia dari sebelumnya enam tenaga manusia.

Sebelumnya, Dinas PMD Provinsi NTT pada 2 September 2021 juga melakukan perjanjian kerja sama dengan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Kupang terkait TTG

Ia menyebut SMKN 2 akan memproduksi mesin pencacah, penepungan batang jagung dan sorgum.

“Alat-alat ini bisa kita produksi untuk hibah ke Bumdes dan bisa diproduksi untuk dibeli masyarakat umum dengan kualitas lebih baik tentu dengan harga murah,” jelasnya.

Sementara, terkait pemekaran desa, kata Viktor, desa-desa di kabupaten Sikka dan Ngada akan direkomendasikan kepada Menteri Dalam Negeri untuk mendapatkan kode wilayah. Bila kode wilayah sudah diperoleh, maka akan ditindaklanjuti dengan Perda dari masing-masing bupati.

Terkait Bumdes, pihaknya mendorong untuk pengoptimalkan BUMDes Smart yang dibuat BAKTI Kominfo.

“Supaya Bumdes ini tidak pakai aplikasi sendiri tetapi cukup sediakan profil, produknya, kualitasnya, produksinya lalu diinput ke BUMDes Smart BAKTI,” kata dia.

“BUMDes Au Wula di Desa Detusoko Barat Kabupaten Ende dan BUMDes Tujuh Maret di Hadakewa Kabupaten Lembata yang telah memanfaatkan ini,” ujarnya.

Ia berharap semua Bumdes di NTT dapat memanfaatkan layanan ini dan juga menyasar sektor pariwisata dan pertanian secara optimal.

Menurutnya, aaat ini ada 1.613 BUMDes aktif, dengan 513 BUMDes dominan pada sektor perdagangan, kemudian diikuti jasa, dan simpan pinjam.

“Kita sementara ubah mindset dan orientasi mereka supaya bisa mengidentifikasi potensi lainnya di desa bersangkutan lalu menjadi jenis usaha Bumdes,” tukasnya.

Pola bisnis di Bumbdes ke depan dibentuk ke arah produksi agar bukan lagi konvensional seperti belakangan ini misalnya penyewaan tenda, kursi dan lainnya.

Pembenahan ke sektor produksi dengan memanfaatkan potensi desa ini akan dibentuk perlahan agar dapat melibatkan masyarakat di dalamnya.

Misalnya, dalam hal budaya dan rekreasi Bumde dapat memanfaatkan perputaran ekonomi di destinasi wisata mulai dari pendamping pengunjung, souvenir, pangan hingga hiburan yang dapat diberikan.

Semua program ini diinformasikan juga secara online termasuk pelatihan dan peningkatan kapasitas bagi masyarakat desa atau pengurus Bumdes. (bev/ol)

Leave a Comment