Dokter Asep Sambangi 22 Penyintas Covid-19 di Gedung SIC

Dokter Asep Purnama saat memberikan arahan kepada 22 penyintas di gedung SIC Kamis (29/7) malam. Foto: Yunus/VN
Dokter Asep Purnama saat memberikan arahan kepada 22 penyintas di gedung SIC Kamis (29/7) malam. Foto: Yunus/VN

Yunus Atabara

Dokter senior pada RS TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, NTT dokter Asep Purnama didampingi istrinya dokter Kandida menyambangi lokasi karantina gedung Sikka Inovation Center (SIC) dan bertemu 22 warga karantina, Kamis (29/7) malam.

Asep mengatakan, 80 persen penyintas Covid-19 di Sikka memiliki gejala ringan, seperti batuk, pilek, demam tetapi tidak sesak napas dan sesungguhnya bisa dilakukan karantina mandiri kalau situasi di rumah itu memungkinkan agar tidak menulari yang sehat.

“Jadi kondisi Bapak, Mama semua akan baik -baik saja, walaupun ada satu atau dua orang yang harus dirawat di tumah sakit. Oleh karena itu harus banyak istrahat, jangan stress, banyak olahraga ringan, bagi yang batuk dan panas akan diberikan obat,” kata dokter Asep.

Sedangkan 20 persen penyintas dirawat di rumah sakit karena memiliki gejala sedang dan itupun hampir semuanya akan baik-baik saja. Diantara 20 persen itu, satu persennya mengalami gejala berat dan kritis.

Untuk mengantisipasi satu persen ini, semua harus menjaga untuk tidak menularkan kepada yang sehat dan yang harus dijaga adalah orang tua yang berusia 60 tahun ke atas yang resiko lebih tinggi terutama yang memiliki penyakit penyerta.

“Banyak yang bertanya ke saya. Dok, orang tua saya kan di rumah saja ko bisa kena covid, padahal sudah bertahun-tahun di rumah saja. Saya jelaskan, yang muda yang merawat orang tua itulah yang berpotensi menularkan,” ujarnya.

Untuk warga karantina, bagi yang tidak bergejala, cukup 10 hari saja menjalani karantina. Tetapi kalau bergejala selama 10 hari di karantina, maka setelah kembali ke rumah ditambah 3 hari karantina mandiri.

“Kalau tidak bisa mencium tetapi tidak bergejala, ya di rumah saja dan tetap prokes tidak apa-apa karena tidak bisa mencium itu bisa lama hingga satu bulan. Tetapi kalau bergejala harus segera periksa dan karantina biar tidak menularkan,” kata dokter Asep

Terkait potensi terpapar Covid untuk kedua kalinya, dokter Asep menjelaskan para penyintas harus tetap waspada karena bila virus yang sama dan bermutasi maka berpotensi untuk kena lagi, namun resikonya lebih kecil.

“Karena itu tetap menjaga prokes dengan 5 M ditambah lagi harus mengikuti vaksin. Harus tetap Prokes, menjaga jarak, selalu pakai masker, jauhi kerumunan dan selalu mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir,” jelasnya.

Ia menambahkan pada riset sebelumnya, pasien yang terpapar Covid-19 baru bisa mendapatkan vaksin usai tiga bulan setelah dinyatakan sembuh namun sekarang sudah bisa langsung vaksin.

Penyintas Covid-19 juga menjadi salah satu prioritas untuk mendapatkan vaksin agar terlindungi dari paparan virus corona lagi. Bila ada kesempatan untuk vaksin, harus segera vaksin.

Dokter Asep menjelaskan kebijakan penyintas Covid-19 harus menunggu 3 bulan untuk vaksin sebagai langkah pemerataan vaksinasi. Hal kni dilakukan dengan harapan kekebalan kelompok atau herd immunity dapat segera tercapai.

“Karena itu, dianggap 3 bulan dulu, (antibodi) sudah mulai menurun baru divaksinasi supaya yang lain bisa kebagian. Sementara penyintas kan masih punya imunitas yang alamiah,” kata Asep.(bev/ol)

Leave a Comment