Editorial: Pulang ke Rumah

Hari itu, 11 September 2021, setelah 12 tahun, Ronaldo kembali menyentuh rumput ‘rumahnya’. Sepanjang pertandingan MU versus Newcastle itu, ribuan penggemar tak putus ‘menyanyikan’ namanya.

RUMAH kiranya idaman banyak orang. Burung saja membuat sangkar, terlebih manusia.

Kerinduan kembali ke rumah utamanya akibat jauh atau lamanya perjalanan hidup seseorang meninggalkan rumah. Bisa pula pelabuhan terakhir bukan ‘rumah’ yang bikin betah. Maka itu, dapat terjadi orang seperti ‘mendadak’ rindu pulang ke ‘rumah’. Kiranya itulah yang terjadi dengan Cristiano Ronaldo.

Sebuah ‘stadion’ tak mudah untuk bertransformasi menjadi sebuah ‘rumah’. Di tangan manajer yang sukses sekalipun, klub hebat tak dengan sendirinya berkemampuan menciptakan emosi cinta sebagai tuan rumah.

Kiranya itulah yang terjadi di Stadion Etihad, markas Manchester City. Di stadion itu tak terdengar nyanyian para fan yang menjadikan diri mereka sebagai pemain kedua belas bagi klubnya yang sedang berlaga. Etihad belum menjadi rumah militan para penggemar.

Fakta keringnya emosi cinta itu merisaukan Pep Guardiola, manajer terbaik dunia. Dirinya sampai perlu mengimbau seperti mengemis mengajak para fan untuk datang ke stadion. City kaya uang, kaya prestasi di tangan Pep, tapi masih miskin ’emosi’.

Rasanya di situlah letak perbedaan emosi City ketika dipimpin Roberto Mancini. Mancini mengekspresikan dirinya bersenyawa dengan fan melalui syal warna biru berlambang City yang senantiasa mengalungi lehernya.

Stadion Brentford Community kiranya bakal menjadi ‘rumah’ pendatang baru Liga Inggris yang tak kalah fanatik. Di tengah lantunan Hay Jude di ‘rumah’ itu (14/8), terasa lebih dalam kekalahan Arsenal 2-0. Stadion Old Trafford juga telah lama terasa bagai ‘rumah tanpa jiwa’.

Ronaldo telah 3 tahun di Juventus. Baginya ‘Si Nyonya Tua’ itu bukan ‘rumah’ yang bikin betah. Bagi Jorge Mendes, agen Ronaldo, kendati menjadi pencetak gol terbanyak di Liga Italia, Ronaldo dinilai perlu meninggalkan Juventus. Pertama, dia masih layak jual. Di usia 36, Ronaldo mencetak 29 gol, lima gol lebih produktif daripada Lukaku yang berumur 8 tahun lebih muda.

Kedua, Ronaldo turun kelas bila bertahan di Juventus yang selain gagal di Liga Champions juga gagal meraih scudetto. Bandingkan dengan Lukaku, yang meninggalkan Inter Milan kembali ke Chelsea, kendati Inter menjadi juara La Liga.

Di dalam pikiran Jorge Mendes, klub yang ideal bagi Ronaldo ialah klub kaya Manchester City yang sangat berambisi menjuarai Liga Champions. Selain itu, Pep Guardiola adalah manajer yang jauh berkelas ketimbang Manajer Manchester United Ole Gunnar Solskjaer.

Pembicaraan transfer dengan City berlangsung intensif. Namun, sampai menjelang penutupan transfer, belum ada keputusan formal. Berita itu membuat ‘panas’ Manchester United. Maka itu, terjadilah upaya luar biasa membawa Ronaldo kembali ke MU.

Ronaldo membahasakan Old Trafford sebagai ‘rumahnya’ dan Ferguson sebagai ‘ayahnya’. Ia memilih kembali ke rumahnya. Hari itu, 11 September 2021, setelah 12 tahun, Ronaldo kembali menyentuh rumput ‘rumahnya’. Sepanjang pertandingan MU versus Newcastle itu, ribuan penggemar tak putus ‘menyanyikan’ namanya.

(Sumber: https://mediaindonesia.com/podiums/)

Leave a Comment