Ekspedisi Perahu Layar, Bangkitkan Jiwa Bahari

Empat perahu layar dalam ekspedisi perdana dari Pelabuhan L Say Maumere menuju Pulau Kojadoi, Minggu (13/6) siang. Foto: Yunus/VN
Empat perahu layar dalam ekspedisi perdana dari Pelabuhan L Say Maumere menuju Pulau Kojadoi, Minggu (13/6) siang. Foto: Yunus/VN

Yunus Atabara

Pariwisata bahari merupakan kegiatan ekonomi yang dilakukan di wilayah pesisir dan di laut dengan memanfaatkan sumber daya alam untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitarnya.

Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga, Minggu (13/6) melepas empat perahu layar nelayan dalam Ekspedisi Perahu Layar dari Pelabuhan L Say Maumere menuju Pulau Kojadoi Kampung Bahari Nusantara (KBN) binaan Lanal Maumere.

Pantauan VN di Pelabuhan L Say Maumere, empat perahu layar itu dikawal kapal Sea Rider Lanal Maumere dan Sea Rider milik Kantor SAR Kelas II Maumere.

Danlanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga, Senin (14/6) kepada VN mengatakan kali ini ada empat kapal dari Kelurahan Nangahure yang turut serta dalam kegiatan expedisi di bawah arahan Ketua Kelompok Nelayan.

“Ekspedisi perahu layar ini dilakukan untuk membangkitkan kembali jiwa pelaut masyarakat Sikka yang sudah tergerus zaman,” ujarnya.

Menurutnya, bila terjadi kerusakan mesin atau Bahan Bakar Minyak (BBM) habus saat melaut, maka para nelayan masih bisa kembali ke darat dengan menggunakan bantuan angin dan layar perahu.

Final Ekspedisi Maumere – Kojadoi akan dilaksanakan pada 27 Juni 2021 dengan melibatkan lebih banyak perahu layar nelayan yang selama ini mencari ikan di wilayah perairan Kabupaten Sikka.

Hadir dalam kegiatan itu, para Perwira Lanal Maumere, Personel Kantor SAR Maumere, KSOP Kabupaten Sikka, GM Pelindo III Maumere dan para nelayan. Acara ekpedisi bahari kali ini berjalan lancar.

Ketua Kelompok Nelayan Wuring, H. Ali Sadikin kepada VN mengaku terakhir kali melaut dengan perahu layar tahun 1995 silam. Sesudah itu, nelayan rata- rata menggunakan mesin.

“Selama kurang lebih 24 tahun itu, sudah tidak paham lagi cara berlayar menggunakan perahu layar. Perahu layar sudah lama ditinggalkan. Terakhir tahun 1995, selanjutnya semua sudah pakai mesin. Jadi, anak sekarang sudah tidak tahu lagi cara berlayar menggunakan perahu layar,” kata Sadikin.(bev/ol)

Leave a Comment