Klub Buku Petra Ruteng Gagas Flores Writers Festival: Ludung Wa Mai Tanan

Beverly Rambu

 

Flores Writers Festival: Ludung Wa Mai Tanan baru saja selesai digelar pada 1-4 September 2021. Festival ini diprakarsai Klub Buku Petra Ruteng dan didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo, Flores dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Badan Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Bali.

Manager Program Flores Writers Festival Maria Pankratia mengatakan kegiatan ini mengambil tema sesuai dengan salah satu go’et atau pepatah orang Manggarai, Rangkang Wa Mai Tanan, Ludung Wa Mai Pu’un.

“Ibarat sebuah pohon, untuk dapat hidup kita harus terus bertunas dan berakar dari dalam tanah dan tumbuh di atas tanah. Pepatah ini menggambarkan pentingnya hidup selaras dan serasi dengan alam. Melalui aktivitas-aktivitas kesusastraan dan literasi, kesenian, serta kebudayaan, Flores Writers Festival diharapkan mampu menjadi ruang untuk berdialog, berbagi, dan berefleksi demi meningkatkan kecintaan serta kreativitas dalam kerja-kerja pemajuan literasi budaya, terutama membaca, menulis, berdiskusi, menerbitkan karya-karya, dan penciptaan kesenian,” ungkapnya dalam rilis yang diterima VN online, Rabu (8/9).

Flores Writers Festival menghadirkan para penulis, pembaca, dan seniman, baik dari Nusa Tenggara Timur, maupun dari luar NTT. Festival diisi dengan berbagai program menarik.

Sebelum kegiatan berlangsung, panitia mengadakan sayembara bagi para pembaca NTT untuk mengumpulkan resensi dari buku penulis NTT yang bertemakan ekologi. Lima penulis yang ulasannya terpilih, datang untuk mengikuti seluruh gelaran Flores Writers Festival di Kota Ruteng secara luring. Lima penulis itu, Adrianus Prima Putra (Labuan Bajo), Ifana Tungga (Kupang), Dunstan Maunu Obe (Kupang), Saverinus Suhardin (Kupang), dan Dominiko Ariyanto Djaga (Maumere).

Maria mengatakan dua orang seniman, Dendi Madya (seniman teater) dan Eka Wahyuni (seniman tari) melaksanakan residensi di Desa Barang, Kecamatan Cibal dan Desa Todo, Kecamatan Satarmese Utara, Kabupaten Manggarai selama dua minggu. Tujuannya, untuk membaca kembali momen perpindahan sarung pada tubuh penggunanya. Secara bentuk, sarung didesain untuk menutup bagian tertentu dari tubuh dan membiarkan bagian lain terbuka. Artinya, mengenakan sarung menempatkan diri pada situasi ambang. Dalam khazanah tradisi, tari dan teater adalah bidang seni yang sering memanfaatkan sarung, baik sebagai kostum, properti, simbol, identitas, atau bahkan menjadi pertunjukkan itu sendiri.

Flores Writers Festival dibuka dengan seminar bertajuk “Rangkang Wa Mai Tanan, Ludung Wa Mai Pu’un: Mari Bertunas dan Berakar dari Dalam Tanah” pada 1 September 2021 di Aula Lantai V. Unika St. Paulus Ruteng. Pembicara seminar; Dr. Inosensius Sutam (akademisi dan peneliti), Shana Fatina (Direktur Utama BPOLBF), Valentino Luis (Kurator FWF), Herybertus G.L. Nabit (Bupati Manggarai) dimoderatori Erlyn Lasar (Penulis Undangan dan pengajar di STFK Ledalero, Maumere). Perbincangan di dalam seminar yang berlangsung lintas-sektor itu mengangkat persoalan-persoalan yang selama ini dihadapi dalam upaya mengaktivasi kembali seni dan budaya di Kabupaten Manggarai.

Pada 1-4 September 2021, berlangsung enam bincang tematik dengan judul “Cerita-Cerita tentang Tanah, Dahulu dan Sekarang” dengan pembicara Silvester Petara Hurit, A.N Wibisana, Yovie Jehabut, dan moderator Yuliana Jetia Moon; “Tanah, Kenangan akan Kenangan” dengan pembicara Mario F. Lawi, Erlyn Lasar, Armin Bell, dan moderator Marianus Nuwa; “Dari Karya ke Ekosistem” dengan pembicara Aan Mansyur, Marcelus Ungkang, dan moderator Maria Pankratia, “Rumah dan Trauma” dengan pembicara Cyntha Hariadi, Marianus Nuwa, dan moderator Afryanto Keyn; “Perempuan Merekam Cerita Perempuan Pesisir” dengan pembicara Rahmadiyah Tria Gayathri, Aura Asmaradana, Kartika Solapung, dan moderator Lolik Apung; “Karya Proses Kreatif, dan Komunitas” dengan pembicara Dr. Mohammad Amin, Aden Firman, Asgar, AN Wibisana, Aan Mansyur, dan moderator Retha Janu.

Di sela bincang tematik, tanggal 3 September 2021, kedua seniman residensi sempat menggelar showcase di Rumah Baca Aksara Ruteng. Kedua seniman berkolaborasi dengan seniman asal Ruteng. Dendi Madya, Rini Temala, Vian Budiarto, Elgi Ramut menampilkan pertunjukan bertajuk “Revolusi di Todo, sedangkan Eka Wahyuni, Valeria Rahmat, dan Yudi Pous menampilkan pertunjukan bertajuk “Flobamor”.

Tema-tema bincang tematik tersebut tidak terlepas dari tanah sebagai asal. Tanah dapat dibaca dalam arti jamak: sebagai identitas, sumber, konteks asali atau rumah. Pengenalan tentang tanah selama ini dibentuk oleh atau melalui memori kolektif yang hidup di lingkungan sekitar. Namun, beberapa hal menghalangi pengenalan itu. Bisa jadi disebabkan oleh hilangnya acuan pada kenyataan yang tengah kita hadapi. Tanah dalam kenangan mengalami perubahan dalam berbagai dimensi: fisik, kepemilikan, fungsi, ekosistem biologis, perihal entitas kosmologis dikarenakan feodalisme, kolonialisme, neoliberalisme, pembangunan, privatisasi, hingga krisis ekologi global.

Silvester Petara Hurit, misalnya, dalam pembacaannya terhadap tanah melihat bahwa hadirnya kolonialisme telah menyebabkan menyusutnya relasi masyarakat primordial-tradisional dengan tanahnya sendiri.

Pada sistem yang lebih kecil yaitu rumah—yang menjadi tempat berangkat, menentukan perilaku manusia pada hal-hal di luar rumah, menentukan kontribusinya pada dunia eksternal. Rumah juga menjadi tempat pulang, interaksi dengan dunia luar berpengaruh pada perubahan di ruang privat. Para penulis yang hadir di Flores Writers Festival adalah para penulis yang kerap mengeksplorasi rumah dalam karya-karya mereka. Mereka dengan para pembaca dipertemukan dalam perbincangan yang ditautkan oleh cakrawala yang dibentangkan oleh karya-karya sastra, terutama yang berkaitan dengan rumah dalam pengertian lanskap ruang, waktu, suasana yang intim, personal serta irisannya dengan lingkungan sosial yang lebih luas tetapi saling membentuk dan menentukan.

Dalam bincang tematik “Rumah dan Trauma”, Cyntha Hariadi, seorang penulis puisi dan prosa, menyatakan kebanggaannya pada tema-tema bincang tematik tahun ini. “Saya sangat terkejut dan bangga Flores Writers Festival mau memberikan ruang dan waktu ini untuk membicarakan masalah domestik.” Menurut Cyntha, selama ini orang berpikir bahwa hal-hal domestik bukanlah merupakan sebuah ilmu pengetahuan.

Sementara, Aan Mansyur yang dijumpai selepas bincang tematik “Dari Karya ke Ekosistem”, menyampaikan kesan dan harapannya terhadap Flores Writers Festival 2021 ini. “Dari sebuah ruang perpustakaan komunitas di Ruteng, sejumlah kawan tidak putus bekerja dan belajar. Setelah media digital, www.bacapetra.co, sekarang mereka dengan gigih mengusahakan festival penulis. Saya melihat kerja baik terus diusahakan untuk memahami diri dan wilayah tempat mereka hidup, juga hubungan keduanya dengan dunia luar yang memengaruhi mereka. Saya berharap semua usaha ini mendapat dukungan yang memadai dan, karena itu, bisa panjang umur. Saya senang sekali bisa ikut terlibat dan belajar dari mereka.”

Tanah juga dapat dibaca sebagai problematisasi kerja kreatif sebagaimana tampak dalam karya-karya pengarang dari NTT belakangan ini. Pengaruh lokalitas dalam karya yang dihasilkan karya sastra pengarang dari NTT juga berkontribusi pada sastra Indonesia bukan hanya pada level kosakata, tapi pada pendayagunaan sarana sastra lainnya, dengan cara yang tidak persis sama dengan tempat-tempat lain di Indonesia.

Di hari terakhir, para penulis undangan, seniman residensi, dan peserta sayembara pembaca mengunjungi dua situs budaya di Kabupaten Manggarai: Lodok Cara di Cancar dan Mbaru Niang di Compang Todo. Kunjungan ini tidak hanya menjadi upaya diseminasi nilai-nilai dan konteks dari tema penyelenggaraan festival yang diusung, akan tetapi juga menjadi cara untuk mempromosikan kekayaan budaya lokal kepada para pengunjung.

Flores Writers Festival ditutup dengan sebuah gelaran panggung seni dengan pertunjukan seni dan sastra “Flores from Land of Dragon” yang diisi oleh Gabriela Fernandez, Aden Firman, M. Aan Mansyur, Mario Lasar, Perola Negra, Bianca da Silva, dan Dixxxie X Vuturama. Penyelenggara dan para penulis undangan berharap seluruh rangkaian kegiatan ini akan digelar setiap tahun. Demikian pula yang disampaikan oleh dr. Ronald Susilo, Direktur Flores Writers Festival, pada pidato pembuka, “Flores Writers Festival diharapkan dapat membuka kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas bagi kerja sama, jejaring, dan interaksi antar subjek-subjek yang membentuk medan kesusastraan dan kebudayaan di Flores dan NTT umumnya.” (bev/ol)

Leave a Comment