Lansia di Sikka Terpaksa Hutang Beras Untuk Bertahan Hidup

Agnes Nurak bersama putrinya Du'a Mitan yang mengalami OGDJ, Senin (27/9) petang. Foto: Yunus/VN
Agnes Nurak bersama putrinya Du'a Mitan yang mengalami OGDJ, Senin (27/9) petang. Foto: Yunus/VN

Yunus Atabara

Agnes Nurak (68), lansia warga RT 12, RW 08, Dusun Krado, Desa Ipir, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, NTT terpaksa harus berhutang beras demi bertahan hidup.

Agnes tinggal berdua bersama seorang putrinya yang mengalami gangguan jiwa.

Hidup Agnes dan putrinya sangat memprihatinkan.

VN bersama beberapa rekan media berupaya mencari kediaman Agnes. Untuk mencapai rumah Agnes, harus menyusuri bukit yang terjal dan berbatu. Rumah Agnes kurang lebih 3 KM dari kampung tetangga yang terdekat. Sedangkan jarak dari jalan rabat kurang lebih 7 KM.

Agnes tinggal di tempat yang terpencil, jauh dari pemukiman warga. Rumah dari dinding bebak sudah hampir roboh, tak layak ditinggali dan tanpa listrik.

Puluhan ditinggal suami yang merantau ke Kalimantan, tinggal bersama anaknya Du’a Mitan (35) yang adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (OGDJ) membuatnya terpaksa harus berhutang beras untuk bertahan hidup.

Disaksikan VN bersama sejumlah awak media lain yang menyambangi kediamannya Senin, (27/9) petang, Agnes Nurak bersama putrinya tinggal di tempat terpencil jauh dari pemukiman warga lain di sebuah rumah yang tidak layak huni tanpa listrik.

Agnes mengaku sudah puluhan tahun ditinggal sang suami merantau di Kalimatan. Ia memiliki tujuh orang anak, enam perempuan dan satu laki-laki. Keenam orang anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di tempat berbeda bahkan di luar Kabupaten Sikka dan jarang menjenguknya.

“Tinggal satu orang yang tinggal bersama saya karena memgalami gangguan mental,” ungkap Agnes.

Agnes mengaku saat masih kuat, ia bekerja sebagai petani untuk menghidupi anaknnya tanpa kehadiran suami. Di usianya senja, ia sudah tidak sanggup bertani.

Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, Agnes bersama anaknya terpaksa harus berhutang beras ke tetangga, dengan jaminan kalau saat panen kemiri atau kelapa baru dibayar.

“Untuk makan saya terpaksa hutang beras. Nanti kalau saya pilih kemiri baru saya bayar. Kadang orang kasi dan kadang juga tidak dikasi,” kata Agnes.

Jika tidak dapat beras, kata Agnes, terpaksa ia jalan dari rumah ke rumah untuk minta ubi kayu, keladi atau jagung untuk makan. Hal itu terpaksa dilakukan untuk bertahan hidup bersama anaknya.

Agnes Nurak

Agnes Nurak

” Kalau tidak ada kami minta ubi kayu atau keladi untuk makan. Kalau tidak dapat, kami hanya parut kelapa dan masak sayur untuk makan agar bertahan hidup,” ujarnya.

Ia mengatakan saat Covid, ia baru mendapat BLT yang ia terima selama 4 kali dalam satu tahun. Uang itu ia gunakan untuk membeli beras dan memperbaiki rumahnya yang bocor.

“Saya terima Rp 300 ribu selama 4 kali. Uang itu saya bayar hutang, saya beli beras dan saya perbaiki rumah yang bocor,” ujarnya.

Selvius Wano, warga Watuklong tetangga terdekat Agnes yang jaraknya kurang lebih 3 KM mengatakan Agnes sudah puluhan tinggal sendiri di hutan jauh dari pemukiman warga lainnya.

“Suaminya merantau sampai sekarang belum pulang. Sedangkan anaknya sudah berkeluarga semua dan tinggal jauh, bahkan ada yang sudah merantau ke Kalimantan,” kata Mano.

Mano berharap pemerintah bisa memperhatikan kondisi Agnes Nurak yang sudah lansia yang tinggal di rumah reot dan hidupnya sangat memprihatinkan.(bev/ol)

Leave a Comment