Mata Air Toleransi di Airmata

Rafael L Pura

Masjid di Airmata, menyimpan cerita peradaban dan persaudaraan antar sesama. Di tanah itu, tumbuh nilai-nilai toleransi dan persaudaraan tanpa sekat. Nilai itu, kini terus tumbuh, mekar dan bersemi.

Azan Maghrib berkumandang sayu merambah langit dataran rendah Kelurahan Airmata, Kota Kupang, Provinsi NTT, dari Masjid Agung Al Baitul Qadim Airmata, masjid tertua di Kota Kupang dan masuk 10 besar Masjid tertua di Indonesia.

Masjid itu didirikan abad ke 18 atau 1806 tahun silam, saat Ali Hasan Badarudin mendiami wilayah itu. Ali Hasan datang dari Menanga, Solor, sebuah pulau kecil di ujung Timur Flores.

Selasa, (11/5) sore itu, jalan di depan Masjid agung itu tampak lengang. Semua penduduk Airmata, Kecamatan Kota Lama, yang mayoritas muslim, meninggalkan semua aktivitas, kembali ke rumah dan berbuka puasa.

Begitupun di rumah Mukhtar Lufti Badarudin. Sesaat sebelum azan maghrib berkumandang, ia pamit, masuk ke dalam rumah dan meneguk minuman hangat yang sudah disiapkan istrinya.

Mukhtar Badarudin, merupakan imam Masjid Agung Al Baitul Qadim, yang juga keturunan Ali Hasan Badarudin dan berhak menempati rumah tua, sepeninggalan moyangnya. Rumah itu pada abad ke 18, menjadi pusat perkumpulan warga, yang juga rumah pemimpin kampung Raja. Rumah itu hingga kini menjadi tempat digelarnya acara “malamang Kampung Raja”.

Malamang Kampung Raja, merupakan perayaan setengah bulan puasa. Warga Airmata memperingati itu, untuk mendoakan arwah para leluhur. Istilah Malamang, sebenarnya diadopsi dari sebutan Wali songo, memalam. Kemudian mengalami pergeseran intonasi dan pelafalan kampung Airmata, menjadi Malamang.

“Di sini tempat kami berkumpul, mendoakan arwah nenek moyang kami. Ini adalah tradisi warisan nenek moyang yang terus kami laksanakan,” katanya.

Acara Malamang, pada masa lampau merupakan acara bersama yang dibalut dalam sebutan Sobat, tempat berbaurnya berbagai lintas agama. Warga katolik dan kristen yang mendiami wilayah sekitaran Airmata, terlibat dan bermama-sama merayakan acara itu.

Acara itu, merupakan salah satu gambaran nyata tentang harmoni dan toleransi yang tumbuh di Kampung Airmata. Warisan itu kini terus dilestarikan Mukhtar Lufi Badarudin.

Mukhtar mengatakan, persaudaraan umat muslim, katolik dan Kristen, telah terjalin sejak dulu dan terus tumbuh hingga kini. Saat perayaan idul fitri pada masa lampau, saudara-saudara katolik dan Kristen, datang berbaur. Mereka membawa serta ternak, disembeli dan makan bersama.

Persaudaraan itu kini terus terawat, meski tidak sekental dulu. Umat kristen dan Katolik pada perayaan idul fitri tetap datang melayani para tetamu dan umat muslim, seperti menyiapkan makanan dan kebutuhan lainnya saat perayaan Idul Fitri. Begitupun sebaliknya, saat perayaan Natal.

“Sekarang tidak lagi seperti dulu, membawa ternak, namun persaudaraan seperti ini terus terjalin. saudara- saudara saya katolik dan kristen, tetap datang membantu kami, melayani saat perayaan idul fitri. Jadi ini sebenarnya menjadi acara bersama. Bukan hanya kami saja,” katanya.

 

Masjid Agung

Pada mulanya, adalah kedatangan Ali Hasan Badarudin dari Menanga, Solor. Secara administrasi, pulau itu masuk dalam kabupaten Flores Timur. Penduduk ini mendiami suku besar Lamaholot. Secara adminitrasi, suku Lamaholot, meliputi Alor kecil, Flores Timur dan Lembata. Lamaholot terdapat dua agama besar, Nasrani dan Islam. Keduanya tumbuh dalam nafas budaya.

Bersama saudaranya, Imam Sanga Insana, yang datang belakangan, kemudian membangun sebuah masjid kecil di Airmata. Mereka kemudian saling berinteraksi dengan warga sekitarnya, termasuk bangsa Arab yang datang dari timur jauh. Mereka terus berinteraksi dalam semangat kesetaraan dan kemanusiaan.

Di Airmata, terdapat dua perkampungan yang memulai derap peradaban masyarakat setempat. Kampung Raja dan Kampung Imam. Kampung Raja didiami warga dari Alor, Kedang (Lembata), solor dan bangsa Arab.

Sedangkan kampung imam, ditempati Keturunan Saban, Binsanga dengan Marga Talib, Alidin, Birando, dan Mustafa. Mereka berinteraksi dari zaman dulu dalam semangat persaudaraan.

Ali Hasan Badarudin, menempati wilayah Airmata itu sejak zaman kependudukan Jepang, sekitar tahun 1800. Ia membangun sebuah rumah di tepi kali, dialiri air yang jernih nan alami.

Ia kemudian mendirikan masjid kecil yang dinamai Airmata. Masjid itu terus berdiri kokoh, melintasi zaman, sejak zaman penjajahan Jepang.

Masjid itu, baru berganti nama menjadi masjid Agung Al Baitul Qadim setelah direnovasi Tahun 1984, yang diprakarsai Imam Birando, yang juga datang dari Menanga.

 

Warisan Budaya

 

Harmoni dan warisan nilai luhur nenek moyang itu dibalut dalam nafas budaya. Ia menjadi roh yang mendorong mereka tetap berpijak pada nilai saling menghormati.

“Ajaran orang tua, maupun kakek saya, moyang saya, selalu sama. Berbuat baiklah kepada siapa saja,” katanya.

Bangunan nilai budaya itulah yang kemudian menjadi tiang terkokoh toleransi, terjadi interaksi sosial secara leluasa. Pada masa-masa selanjutnya, kata Mukhtar, terjadi kawin-mawin di antara mereka, yang semakin meneguhkan nilai persaudaraan dan toleransi di antara mereka.

Dari Airmata, Mata Air toleransi dan persaudaraan itu tumbuh dan terus mengalir, menumbuhkan harmoni. (yan/ol)

Leave a Comment