Merawat Kesadaran

Edwin U Marabi Alumni Sosiologi FISIP Undana

 

SETIAP 5 Juni kita memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day). Ditilik dari jejak sejarah, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pertama kali pada tahun 1972, melalui konferensi di Stockholm, Swedia. Adalah Jepang sebagai negara yang menginisiasi konferensi tersebut. Sebab, pada saat itu Jepang sedang mengalami wabah minamata.

Kini, nyaris setengah abad sudah kita memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Tak ada yang berbeda dari peringatan tahun-tahun sebelumnya di mana kita masih berkutat dengan bayang-bayang pandemi Covid-19. Yang berbeda mungkin hanya soal tema peringatannya saja. Hal lain yang juga tidak berbeda adalah kita masih terus dihantui oleh berbagai bencana alam seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang beda mungkin hanya jenis bencana dan tempatnya. Yang teranyar adalah badai tropis Seroja yang terjadi di beberapa wiayah NTT pada 3-5 April lalu.

Badai yang katanya baru dirasakan pertama kali di NTT itu menelan korban jiwa, harta benda dan kerusakan infrastruktur. Rumah warga, rumah ibadah, sekolah, bendungan, jembatan, jalan raya, pohon dan lain sebagainya hancur dan hanyut oleh hantaman dahsyatnya badai. Yang paling menyayat hati adalah ketika kita mendengar cerita pilu dan jeritan tangis anak bangsa yang kehilangan sanak-saudara mereka untuk selamanya. Sedih rasanya. Badai yang rerata menghantam setiap wilayah hanya dalam waktu beberapa jam itu telah membuat kita panik. Kita diam dan terkurung dalam rumah, laiknya anak burung dalam sangkar. Yang terlontar di bibir kita hanya pasrah pada kehendak Yang Maha Kuasa lewat untaian doa.

Siklon tropis badai seroja tidak saja tercatat dalam tinta sejarah, tetapi lebih dari itu, kita bisa belajar tentang peristiwa alam yang sulit ditebak. Ini bentuk kode alam yang perlu diilhami dengan kesadaran yang sungguh, bukan malah acuh tak acuh. Jika kita benar-benar manusia yang sadar, mestinya kita menilai peristiwa ini merupakan akibat dari ulah manusia yang tidak bertanggungjawab yang mengeksploitasi alam secara tak bertanggung jawab. Penebangan hutan secara liar dan kebakaran hutan/lahan adalah contoh konkret penyakit menahun kita yang sampai dengan saat ini belum teratasi secara baik.

Nyaris setiap tahun, beberapa wilayah di Indonesia hanya berkutat dengan persoalan kerusakan lingkungan. Kepulauan Riau, misalnya. Daerah ini selalu mengalami kebakaran hutan dan lahan, seperti yang terjadi di Kota Dumai, Riau pada Selasa (23/2/2021) di mana terjadi kebakaran lahan gambut dengan cakupan wilayah yang cukup luas. Dengan kasus karhutla ini, asap bertebaran kemana-mana sehingga mengganggu aktivitas warga. Masih kuat dalam ingatan kita, kasus karhutla yang amat hebat pernah terjadi pada tahun 2019 lalu di wilayah Riau dan Jambi. Kedua wilayah itu dikepung asap pekat, yang membuat jarak pandang menjadi kabur dan mengganggu saluran pernapasan manusia. Bahkan, negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura ikut terkena imbasnya. Ini dosa ekologis yang mesti ditangani secara serius.

Dalam beberapa tahun belakangan, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai Indonesia masih darurat ekologis, karena adanya ketimpangan penguasaan dalam pengelolaan sumber daya alam. Bahkan, pada tinjauan lingkungan hidup tahun lalu, Walhi menilai bahwa pada tahun 2020 kondisi Indonesia sedang tidak baik-baik saja, namun jatuh sakit. Kata “jatuh sakit” adalah bentuk tamparan keras bagi pemerintah agar ke depan lebih memperhatikan pembangunan yang ramah lingkungan. Sustainable development goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan yang merupakan rencana aksi global dan telah disepakati para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, harus benar-benar menjaga kualitas lingkungan hidup sebagai salah satu poin penting dalam rencana besar itu.

 

Kesadaran Kita

Sebagian dari kita mungkin pernah menonton film “The Day after Tomorrow” (2004) yang disutradarai Rolland Emmerich. Film ini mengangkat isu lingkungan dengan menggambarkan berbagai bencana alam yang terjadi akibat pemanasan global (global warming). Bencana alam yang terjadi seperti meluapnya sungai yang membuat sebuah bendungan raksasa jebol dan terjangan dahsyat tsunami dari laut yang menghancurkan gedung-gedung pencakar langit menjadikan film itu sebagai tontonan yang menarik sekaligus mengerikan.

Meskipun film itu hanya sebuah fiksi ilmiah, akan tetapi ada pesan penting bagi setiap orang yang menontonnya. Pesannya tentu untuk membangun kesadaran kita tentang pentingnya menjaga lingkungan tempat kita hidup. Kita harus bersikap ramah terahadap lingkungan, agar lingkungan tidak marah kepada kita. Kesadaran untuk menjaga lingkungan mesti terus dipupuk. Siapa saja bisa melakukan sesuatu untuk menjaga lingkungan, meskipun dengan aksi-aksi kecil tapi nyata dan bermanfaat. Tidak harus menjadi seorang aktivis lingkungan.

Rasanya tidak adil jika kita hanya menilai seorang aktivis lingkungan dari bagaimana ia melakukan orasi di podium atau aksi bersih-bersih lingkungan. Di podium, ia beretorika dengan dengan apik, meneriaki kegelapan soal kerusakan lingkungan dengan adanya berbagai kasus karhutla. Di pantai. Ia bersama aktivis lingkungan lainnya melakukan aksi bersih-bersih sampah plastik yang berserakan. Itu baik. Sedangkan, pada saat yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari di rumah, ia malas menanam pohon dan getol membuang sampah plastik tidak pada tempatnya, bahkan tabiat buruknya itu jauh lebih banyak dari orasi dan aksinya, maka perlu diperiksa kembali kadar aktivis yang disandangnya. Persoalan terbesar kita adalah tahu bahwa lingkungan itu penting, tetapi tidak sadar bagaimana implementasi yang sebenarnya. Meski begitu, saya tetap meyakini bahwa masih banyak orang baik di sekitar kita yang mampu merawat kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan. Semoga manusia Indonesia tetap sehat, baik otot dan otaknya. Selamat memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Leave a Comment