Opini : Kekuatan Derma

Oleh Posman Sibuea (Guru Besar Teknologi Hasil Pertanian dan Ketahanan Pangan di Unika Santo Thomas Medan)

BANYAK pengamat yang yakin Indonesia akan mampu bertahan melewati pandemi ini, terutama karena didukung oleh kekuatan modal sosial (social capital) yang dimiliki oleh masyarakatnya. Selain keyakinan yang berbasis kualitatif-etnografis, secara statistik didukung oleh fakta bahwa Indonesia merupakan negara yang paling dermawan. Itu setidaknya menurut laporan yang disusun Charities Aid Foundation (2019). Berdasarkan survei lembaga itu dalam 10 tahun terahir, secara agregat Indonesia menempati posisi kesepuluh.

Sebetulnya kita pernah menduduki urutan kedua di 2017 bahkan nomor wahid pada 2018. Namun kemudian secara agregat menjadi urutan kesepuluh karena di 2015 pernah berada di urutan ke-22. Kendati begitu, jika kita lakukan zoom in, ternyata masyarakat kita nomor 6 paling dermawan di dunia dalam hal mendonasikan uang (donating money), dan nomor 7 dalam hal menyediakan waktu menjadi relawan di organisasi sosial (volunteering time).

Yang menarik, sejak pandemi berlangsung, tampaknya lembaga-lembaga filantropi dan charity semakin banyak bermunculan laksana jamur di musim hujan. Pada umumnya mereka menggalang donasi melalui online crowdfunding, dan dikampanyekan melalui berbagai platform, terutama media sosial.

Bahkan, perusahaan berkelas decacorn seperti Gojek memiliki fitur filantropinya sendiri, dari mulai donasi untuk isu-isu sosial, pendidikan, kesehatan, hingga zakat. Kita tidak tahu bagaimana inovasi sosialnya nanti pascamerger dengan Tokopedia menjadi GoTo. Kedua perusahaan tersebut memiliki ekosistem sendiri yang dapat disinergikan menjadi kekuatan baru. Mungkin kelak wujud donasinya lebih variatif, tidak hanya berupa uang tapi juga barang, makanan, pulsa, atau yang lainnya.

Menjamurnya lembaga dan platform filantropi ini tentu baik jika dipandang dalam perspektif fastabiqul khairat (saling berlomba dalam kebaikan). Namun tetap perlu ada kontrol secara moral dari para pemegang kepentingan, terutama oleh para donatur sendiri, agar lembaga-lembaga tersebut terjaga amanahnya. Selain itu penting juga lembaga-lembaga tersebut menerapkan prinsip-prinsip dalam komunikasi eksternal organisasi yang bertujuan untuk meraih kepercayaan dan reputasi.

Hal ini penting karena saya meyakini bahwa kredibilitas dan transparansi lembaga sosial akan berbanding lurus dengan kuantitas pengeluaran masyarakat dalam berderma (social spending). Semakin masyarakat yakin bahwa dana sosial mereka tersalurkan dengan tepat sasaran, semakin besar peluang bangsa ini menaikkan skor World Giving Index-nya.

Tentu orientasi kita tidak semata-mata urutan statistik, melainkan secara kualitatif sikap dan perilaku kedermawanan yang dimiliki masyarakat akan sangat kontributif terhadap ketahanan bangsa ini menjalani hidup di tengah pandemi.

Tetap Optimistis

Pada 2020 beberapa pengamat sempat khawatir apabila kekuatan modal sosial masyarakat Indonesia hanya akan bertahan hingga 2021. Jika pandemi ini berlarut-larut tanpa ada kepastian kapan berahirnya, ditakutkan masyarakat yang terbiasa berderma akan menahan atau mengurangi anggaran sosial mereka.

Namun, tidak sedikit pula yang tetap optimistis, setidaknya hingga hari ini. Setelah pandemi berjalan lebih dari setahun, kita jadi tahu bahwa dampak dari pandemi ini ternyata paradoks, karena tidak semua segmen masyarakat terdampak secara signifikan. Sebagian kelompok yang terdampak pun banyak yang mampu menemukan celah untuk bisa bertahan.

Banyak pengusaha UMKM yang mampu bertahan, terutama yang bergerak di sektor konsumsi. Perdagangan di market place juga masih tampak ramai, demikian pula pusat-pusat wisata lokal yang masih mampu meraih pengunjung lokal. Bahkan sektor industri otomatif semakin menunjukkan sinyal pemulihan. Meski secara statistik pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2021 masih minus 0,74%, namun ada perbaikan dari beberapa kuartal sebelumnya.

Yang menarik, kekuatan derma yang dimiliki oleh Indonesia, termasuk juga negara-negara paling dermawan lainnya, tidak serta-merta berhubungan dengan kesejahteraan yang dimiliki masyarakatnya. Jika kita tilik kembali data CAF (2019), ternyata selain Indonesia, Myanmar dan Sri Lanka juga masuk 10 besar negara terdermawan secara agregat. Sebaliknya, negara yang konon sudah dianggap ‘gajah’ (ekonomi maju) seperti Tiongkok dan Rusia, masuk kelompok negara terpelit di dunia.

Tentu karakter dermawan yang dimiliki oleh bangsa ini tidak diperoleh tiba-tiba. Ada variabel budaya dan relijiusitas yang telah mengakar menjadi kebajikan sosial hingga terbangun fondasi tradisi memberi (giving tradition). Secara personal, perilaku kedermawanan demikian dapat berlatar emosional, sosial, spiritual, ataupun rasional-eksistensial.

Sebagai contoh, donasi masyarakat Indonesia untuk membantu rakyat Palestina boleh jadi tidak semata-mata berlatar keyakinan keagamaan (spiritual), tapi bisa pula berlatar simpati kemanusiaan (emosional). Dalam hal ini berkembang narasi yang menarik, yakni kalimat ‘Anda tidak perlu menjadi muslim untuk membela palestina, cukup menjadi manusia’.

Apapun motivasi masyarakat Indonesia dalam berderma, modal sosial ini wajib disyukuri. Waktulah yang akan terus menguji sampai sekuat mana karakter ini tetap eksis. Tentu, untuk menjaganya kita memerlukan ekosistem yang mendukung hidupnya energi kebaikan ini. Itu ditentukan oleh kontribusi setiap individu.

(Sumber: https://mediaindonesia.com/opini)

Leave a Comment