Pelajar Toianas Mulai Lemah Berhitung, Minat Belajar Minim

 

Putra Bali Mula

Minat belajar pelajar SMPN Hauhasi, Kecamatan Toianas, Kabupaten TTS, NTT turun drastis. Kemampuan berhitung murid juga lemah sejak diterapkan sekolah terbatas akibat pandemi Covid-19.

Petronela Linome, guru matematika di SMPN Hauhasi kepada VN mengatakan mata pelajaran yang ia bawa itu ia berikan sehari dalam seminggu ke 10 titik kumpul. Titik-titik ini untuk mengakomodir sekitar 162 siswa dari sembilan kelas baik dari kelas enam hingga sembilan yang. Saat ini tersisa 3 titik. Banyak murid yang tidak datang sehingga titik kumpul terpaksa dipersempit. Banyak faktor mempengaruhi hal ini.

“Ada yang aktif, ada yang tidak. Tidak semua anak datang di titik-titik itu,” ujarnya.

Sistem pendidikan ini diterapkan karena jaringan telepon bahkan sinyal radio saja sulit masuk. Internet di sebagian besar wilayah kecamatan itu tidak ada sama sekali.

Wali siswa sendiri sebenarnya ingin kegiatan belajar mengajar dilakukan di sekolah karena keseluruhan siswa yang ia bina diasuh oleh kakek nenek mereka.

Orang tua kandung siswa rata-rata merantau ke luar kota seperti Kalimantan bahkan berada di Malaysia menjadi TKI. Manula yang mengasuh para pelajar adalah petani sehingga mau tidak mau siswanya ikut membantu menopang kehidupan ekonomi.

Ketentuan sekolah jarak jauh sendiri adalah para siswa diawasi dan dibina oleh orang tua atau wali. Tentunya ini tidak berlaku sepenuhnya dengan kondisi anak-anak di sana ditambah kondisi ekonomi dan infrastruktur yang parah.

Imbasnya, target dan indikator penilaian belajar banyak tidak tercapai terlebih kemampuan siswa menerima materi berhitung. Kemampuan kognitif murid jatuh signifikan. Kondisi ini, menurut dia, berbeda dengan siswa di kota yang berpeluang menambah materi dari internet secara mandiri, tidak demikian di desa.

“Di sini mereka bergantung pada guru sepenuhnya apalagi mereka harus membantu orang tua, keadaan semua sulit apalagi ekonomi,” jelasnya.

Para siswa berkali-kali mengeluh karena tidak memahami materi. Mereka selalu meminta penjelasan lebih lanjut atas materi yang mereka terima 20 menit sekali dalam seminggu itu. Sekalipun penjelasan materi menggunakan buku dan papan tulis seperti biasa namun hal itu tidak berpengaruh banyak.

Ia khawatir lebih lama sistem sekolah seperti ini bertahan maka akan terus memperburuk kualitas belajar dan prestasi siswanya.

“Karena kami sudah terbatas dalam banyak hal selama ini,” tukasnya terbata-bata.

Faktor cuaca di musim penghujan juga menjadi cerita sendiri. Kali yang diseberanginya apabila meluap karena hujan membuatnya terpaksa kembali pulang.

Untuk sampai ke SMPN Hauhasi, ia menempuh jarak 9 kilometer menggunakan sepeda motor dari wilayah Ayotupas, tempat tinggalnya di Kecamatan Amanatun Utara.

Beberapa titik jalan memang baik tapi sebagian besar wilayah rusak berat. Sementara para siswa kebanyakan berjalan kaki. Ada yang rumahnya berjarak 5 kilometer dari sekolah.

Air bersih juga menjadi persoalan tak terelakkan di wilayah yang selalu mengalami kekeringan kala musim penghujan berakhir. Air bersih tidak mencukupi keperluan sehari-hari di sekolah. Terpaksa siswa piket yang nantinya membawa air dari rumah. Padahal air menjadi kebutuhan dasar sekolah tatap muka nantinya untuk mencuci tangan dan MCK. Hal ini tentu menjadi catatan penting untuk sekolah yang ada di desa itu. (bev/ol)

Leave a Comment