Potret Hidup Anak Stunting di Kota Kupang

VO (5) tahun merupakan salah satu penderita stunting Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang. Foto: Rafael/VN

Rafael L. Pura

Maria (38) duduk bersilah di lantai rumah bebak 5×7 meter. Anaknya, VO (5) sedang menonton You Tube di gadget. Ia sesekali tertawa, melepaskan gadgetnya sebentar, lalu berlari merebah di pangkuan ibunya, Maria.

Maria bersama suaminya DO (38) tinggal di Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang. Hanya satu kilo meter dari Kantor Wali Kota Kupang.

Halaman rumah dimanfaatkan untuk menananam sayur-sayuran untuk dijual.

Membiarkan anaknya bermain gadget dan tertawa menjadi jalan bagi Maria melawan tekanan stunting yang diderita anaknya.

VO kini telah lima tahun, namun masih terlihat seperti baru berusia satu tahun. Tubuhnya kurus dan ceking. Rambutnya sengaja dibiarkan terus tumbuh memanjang.
Berat Badan VO hanya 11,9 kilogram dan tingginya mencapai 89 centimeter. Usianya sudah 5 tahun. Anak-anak normal memiliki berat badan berkisaran 18 sampai 19 kilogram, sedangkan tinggi mencapai 100 centimeter lebih.

Kondisi anaknya seperti itu membuat Maria memutuskan tidak menyekolahkan VO ke PAUD, meski secara usia, VO sebenarnya sudah layak. Rata-rata usia anak-anak masuk ke PAUD berusia 3 sampai 4 tahun.
Maria memiliki empat anak. VO merupakan anak bungsu. Kakaknya yang lebih besar tengah mengenyam pendidikan di sekolah dasar. Sedangkan dua anaknya meninggal setelah melahirkan.

Saat mengandung VO, Maria menjalani kehidupan seperti biasa, seperti saat mengandung anak pertamanya. Pola konsumsi pun sama. Maria juga rutin memeriksa kahamilannya di posyandu. Asi juga diberikan sampai VO sampai memasuki usia lima bulan.

“Sejak melahirkan dia (VO) saya kira seperti anak saya sebelumnya. Namun seiring waktu, saya merasa aneh. Berat dan juga tinggi badannya tak naik-naik, tidak seperti anak seumurannya,” katanya.
Kondisi ini diperparah dengan daya tahan tubuhnya, hampir setiap bulan, VO rutin diperiksa ke puskesmas atau rumah sakit karena sakit, mulai dari diare, pusing dan perut sakit. Kondisi ini diyakini Maria juga turut mempengaruhi tumbuh kembang VO.

Kini, Maria harus mandiri mengurus VO. Sebab usianya yang sudah lima tahun, usia yang sudah “tamat” dari Posyandu.

Meski demikian, aktivitas VO seperti anak-anak seusianya. Bermain dan berbaur dengan anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya. Selalu ceria, yang membedakan, hanya ukuran badan, apalagi VO sudah mahir berbicara meski lambat. VO baru bisa berbicara saat usianya memasuki 3 tahun, lebih lambat dengan anak normal yang sudah bisa berbicara saat menginjak usia 1,8 bulan.

Terus Berjuang
Maria merupakan kaum urban yang datang ke Kota Kupang tahun 2014. Ia menikah dengan DO saat usianya masih 20 tahun. Mereka membangun rumah sederhana di atas lahan milik orang.
Pekarangan rumah Maria, lumayan besar, dimanfaatkan untuk menanam sayur-sayuran. Kebun sayuran itu diapit bangunan kokoh belasan rumah. Setiap tahun, luas lahannya itu semakin meyempit karena himpitan perumahan-perumahan yang dibangun itu.

Kehidupan Maria dan suaminya ini, bertumpuh sepenuhnya pada hasil panen sayur-sayuran di pekarangan rumah. Maria menjual sayur itu di pasar Oebobo, yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumahnya.
Pekerjaan ini tidak memberinya hasil pasti. Pendapatan Maria dan suaminya tidak tetap, berkisaran Rp400.000 sampai 500.00 ribu saja. Dengan penghasilan ini, Maria mampu bertahan di Kota Kupang, selama delapan tahun belakangan.

“Kondisi ini, tidak akan membuat saya menyerah. Saya akan terus seperti ini, berjuang untuk pendidikan anak-anak saya. Setidaknya mereka bisa meraih sarjana dan hidup lebih baik di masa depan, dibandingkan dengan kami, orang tuanya yang hanya tamatan SD,” katanya.

Sempat Membaik
Kader Posyandu, Kelurahan Fatululi, Damaris Ratu mengatakan, kondisi VO sempat membaik saat ada bantuan dari Nutrition Improvement Through Cummunity Empowerment (NICE), yakni pemberian makanan tambahan dan vitamin selama 20 bulan.

Di masa-masa itu, anak-anak, termasuk VO rutin diberikan asupan nutrisi dan makanan tambahan setiap pagi dan sore harinya dan kondisinya membaik. VO yang sebelumnya kurang gizi, menjadi sehat kembali.

“Namun saat program ini berhenti. Ia kembali ke kurang gizi lagi sampai sekarang,” katanya.

VO terakhir ditimbang dan diukur berat badannya pada bulan september silam. Beratnya mencapai 11,9 dan tinggi badannya hanya mencapai 89 centimeter.

Ia bertekad akan terus bergerak dalam upaya menekan anak-anak stunting di Kelurahan Fatululi. Sejumlah upaya terus dilakukan, penimbangan, imunisasi dan pemberian makanan tambahan.

Angka stunting di Kelurahan Fatululi tahun 2021 mencapai 19 orang. Sementara Kota Kupang secara keseluruhan, masih berada di angka 30 persen atau melampaui target dari pemerintah kota, yang hanya di bawah angka 20 persen.
Wakil Wali Kota Hermanus Man, dikonfirmasi kemarin mengaku tengah menyusun rencana penanganannya, dimulai dari hulu ke hilir. Penangannya ke depan, tidak hanya sekadar “kasih makan”.

Wawali telah memerintahkan para camat, Lurah dan Posyandu untuk segera mengukur berat dan tinggi badan balita. Angka itu, yang kemudian menjadi basis perencanaan penanganannya.

Leave a Comment