Processo Logu Senhor Warisan Portugis di Sikka

Umat di Kampung Sikka, Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka menggelar ritual Processo Logu Senhor (prosesi merunduk di bawah salib) memperingati kisah sengsara Yesus sebagai warisan Portugis. Foto: Yunus Atabara/VN
Umat di Kampung Sikka, Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka menggelar ritual Processo Logu Senhor (prosesi merunduk di bawah salib) memperingati kisah sengsara Yesus sebagai warisan Portugis. Foto: istimewa

Yunus Atabara

Ritual Processo Logu Senhor (prosesi merunduk di bawah salib) merupakan sebuah ritual memperingati kisah sengsara Yesus, warisan Portugis di Kampung Sikka, Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka.

Processo Logu Senhor dilakukan setiap Jumat Agung, menjelang Paskah setiap tahun oleh panitia penyelenggara yang melibatkan unsur pemerintah, biarawan/biarawati, tokoh masyarakat dan peserta Logu Senhor yang sudah mendaftar dari berbagai daerah, serta ribuan umat peziarah.

Pelaku sejarah Kerajaan Sikka, Goris Tamaela Karwayu kepada VN Senin (17/5) menuturkan, prosesi Logu Senhor pertama dilakukan di Kampung Sikka, pada abad ke 16, tahun 1.607 yang dibawa oleh Raja Sikka Pertama Don Alexius Alessu Ximenes da Silva.

Berawal dari sebuah peristiwa di Kampung Sikka yang diserang penyakit yang menimbulkan kematian hampir setiap hari di Kampung Sikka tanpa memandang usia, status, jabatan dan profesi.

Peristiwa itu, menimbulkan kegelisahan Raja Sikka Don Alessu mendorong keinginannya melakukan perjalanan ke dunia lain untuk mencari kehidupan kekal yang dalam bahasa Sikka disebut Tanah Moret Dadin (dunia tanpa kematian).

Kapela Senhor yang terletak di depan Gereja Gereja St Ignasius Loyola, Sikka.

Kapela Senhor yang terletak di depan Gereja Gereja St Ignasius Loyola, Sikka.

Don Alessu dalam mempersiapkan diri menempuh sebuah perjalanan jauh, mengumpulkan Mo’ang Pulu (10 pembesar) dan menyampaikan keinginannya mencari kehidupan kekal untuk menyelamatkan diri dan seluruh warganya dari penyakit mematikan itu.

Dari hasil pertemuan Don Alessu bersama Mo’ang Pulu, mendapatkan persembahan 10 dulang persembahan berupa emas dan ambar menik ambar (wewangian dari usus ikan paus) sebagai bekal Don Alessu dalam perjalanan mencari tanah kehidupan kekal.
Don Alessu dari Maumere menuju Malaka, menumpang kapal layar. Dalam pelayaran itu, Don Alessu bertemu dengan, Panglima Jendral Kerajaan Portugis bernama Jogo Worila.

Kepada Jogo Worila, Raja Sikka mengutarakan keinginannya untuk mencari tanah kehidupan kekal. Oleh Jogo Worila akhirnya mempertemukan Don Alessu dengan seorang imam dari Ordo Dominikan.

Kepada Don Alessu, Imam Dominikan menjelaskan bahwa kehidupan kekal hanya ada di Surga. Sedangkan untuk mencapai Surga sebagai tempat kehidupan kekal itu, hanya dengan memeluk suatu agama.

Dengan memeluk, mempelajari, menghayati dan mengimani agama tertentu termasuk Agama Katolik, seseorang akan mencapai suatu tempat tanpa kematian atau kehidupan yang kekal.

Sejak saat ini Don Alessu belajar Agama Katolik di bawah bimbingan Imam Dominikan. Selain mempelajari agama Katolik, budaya dan ilmu tata pemerintahan.

Don Alessu dipermandikan menjadi Agama Katolik dan sekaligus diangkat sebagai Raja Sikka di bawah kekuasaan Lisboa/Lisabon (Portugis) dengan gelar Raja Don Alexius Alessu Ximenes da Silva.

Don Alessu kembali ke Kampung Sikka pada tahun 1607, dengan membawa hadiah dari Imam Dominikan dan kerjaan Lisboa berupa sebuah Arca Senhor (Salib Yesus) dan tarian Toja Bobu.

Didampingi seorang guru agama Katolik bernama Agustino Rosario da Gama, utusan khusus Raja Portugis untuk berita pengangkatan Don Alessu sebagai Raja dan Sikka mengajarkan agama Katolik bagi masyarakat Sikka.

Setelah kebanyakan orang Sikka menganut Agama Katolik, saat itulah Raja Don Alessu pertama kali menyelenggarakan processo Logu Senhor.
Processo Logu Senhor sejak saat itu secara rutin diselenggarakan setiap tahun hingga saat ini. Selain itu tarian Tojabobu di selenggarakan secara berkala yang diikuti oleh khalayak ramai.

Dalam prosesi Logu Senhor setiap tahun, jumlah Piramida sangat tergantung kesiapan panitia penyelenggara prosesi. Mulai dari 3 sampai 5 piramida dengan tujuh perhentian sengsara Yesus.

Diawali Misa Jumat Agung, Prosesi Cium Salib, kemudian dilanjutkan dengan prosesi membawa keluar Senhor dari Kapela Senhor tempat pentaktakan, dibawa ke dalam gereja oleh panitia berpakaian ungu.

Prosesi Logu Senhor dimulai dari Gereja St Ignasius Loyola, kemudian dilanjutkan ke perhentian berikutnya hingga perhentian terakhir dan kembali ke Gereja untuk ditaktakan kembali Senhor di Kapela Senhor yang terletak di depan Gereja Sikka.(pol)

 

Leave a Comment