Sistem Kelistrikan PLN Pulih 100 Persen

Petugas PLN UIW NTT sedang melakukan perbaikan sistem kelistrikan pasca badai Seroja.

Thony Johannes

Sistem kelistrikan di NTT telah pulih 100 persen terhitung pukul 12.00 Wita, Senin (10/5). Pulihnya sistem kelestikan NTT ditandai dengan berfungsinya 4.002 gardu distribusi yang meliputi 635.979 pelanggan.

Lima unit gardu distribusi di Pulau Raijua yang paling terakhir menyala setelah ditangani tim pemulihan dari PLN Oesao dan Sabu yang dipantau langsung GM Unit Induk Wilayah (UIW) NTT, Agustinus Jatmiko.

Demikian disampaikan Direktur Bisnis Regional Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara PLN, Syamsul Huda saat zoom meeting terkait pemulihan sistem kelistrikan NTT, Senin (10/5).

Badai Seroja pada 5 April 2021 berdampak pada 635.979 pelanggan yang mengalami pemadaman dan gangguan pada 4.002 gardu distribusi di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Sumba Timur, Pulau Adonara, Lembata, Alor, Pantar, Rote, Sabu, dan Pulau Raijua.

Akibat gangguan tower 19 Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 70 kV yang roboh pada wilayah Alak, sehingga pelanggan PLN di Kabupaten Kupang, TTS, TTU, dan Kabupaten Belu mengalami pemadaman.

Dalam menangani dampak peristiwa badai Seroja, PLN bergerak cepat melakukan penormalan sistem kelistrikan dengan total personel yang terlibat 1.812 orang, untuk seluruh NTT, baik personel berasal dari NTT maupun luar NTT. Pengiriman genset digunakan pada lokasi yang vital.
PLN juga mendirikan tiga posko bencana, lakukan penyaluran sembako dan dapur umum untuk menyalurkan bantuan kepada korban bencana.

PLN juga melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah (Pemda), TNI, Polri, juga segenap stakeholders lainnya juga tokoh masyarakat yang ada di Provinsi NTT untuk mempercepat pemulihan.

“Kami ucapkan terima kasih kepada pemda, TNI, Polri dan seluruh lapisan masyarakat yang turut serta membantu PLN dalam pemulihan. PLN bekerja siang dan malam tanpa kenal lelah untuk pemulihan sistem kelistrikan,” ujarnya.

Untuk pembenahan tower 19, dibangun tower emergency atau menara darurat dengan tantangan yang dihadapi pada kondisi geografis yang curam dan tanah yang longsor. Hal itu tidak menyurutkan semangat tim pemulihan PLN dalam menyelesaikan tugasnya.

Menara darurat awalnya ditarget rampung selama satu bulan, namun diselesaikan dalam waktu 10 hari atau lebih cepat dari target, sehingga difungsikan pada 18 April 2021.

PLN berencana membangun menara parmanen dan dibutuhkan dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat serta semua pihak yang terkait, sehingga diharapkan tower parmanen dapat terbangun dalam waktu tiga bulan yang akan datang.

Sebanyak 232 relawan dari 12 unit PLN dan mitra kerja yang berasal dari daerah lain yakni Sulawesi, Papua, Maluku, Jawa, Madura, Bali dan anak perusahan bahu membahu membantu pemulihan sistem kelistrikan di NTT.

Tercatat pada 30 April sebanyak 3.995 gardu distribusi terdampak sudah menyala atau 99,82 persen dan 635.152 pelanggan terdampak atau 99.86 persen menyala menyisakan tujuh gardu distribusi di Pulau Pantar, Sabu dan Pulau Raijua yang memiliki tantangan pada akses transportasinya.

Pada Minggu (9/5) seluruh gardu distribusi sudah dapat dinyalakan, sehingga hari Senin (10/5) pukul 12.00 Wita total 4.002 gardu distribusi terdampak dan 635.979 pelanggan terdampak telah menyala seluruhnya. Hal ini berarti sistem kelistrikan NTT telah pulih 100 persen. “Yang terakhir kalinya gardu dinyalakan di Pulau Raijua yang dihadiri langsung GM PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko,” ujarnya.

GM PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko mengatakan, setelah sistem di daratan Flores, Sumba, Timor sudah mendekati pulih pihaknya langsung turun ke Pulau Alor karena tersisa Sabu dan Raijua. “Di Alor ternyata sudah pulih 100 persen dan di Pantar ada lima gardu sehingga menyeberang dengan membawa tambahan personel, peralatan, dan material sehingga di Pantar dengan dibantu TNI dan warga bisa selesai,” ujarnya.

Untuk Pulau Sabu dan Raijua yang merupakan pulau terluar sedikit terkendala akses, sehingga berangkatlah ke Pulau Sabu dilanjutkan ke Raijua.

“Terimakasih kepada BNPB, Danlanud, Pemda, KSOP, ASDP, BPBD yang ikut membantu termasuk personel dari Oesao dan Sabu, sehingga lima gardu, tiang, dan kabel bisa ditangani. Saat turunkan tiang dan trafo dibantu warga dan pemda untuk logistik dan mes,” ujarnya.

Asisten II Setda NTT, Samuel Rebo menyampaikan NTT sudah akrab dengan bencana, namun badai Seroja merupakan bencana yang memiliki dampak yang sangat luas. Khusus di Kota Kupang dampaknya listrik padam, pelayanan umum macet, dan masyarakat menjadi takut dan panik. Tetapi ada hal luar biasa yang dilakukan rekan-rekan dari PLN pada hari pertama pasca badai, listrik sudah menyala walaupun terdapat banyak pohon yang roboh menimpa tiang listrik.

“Tiap hari ada laporan perkembangan pemulihan layanan PLN. Awalnya disampaikan akan selesai pada Mei tapi menurut amatan pada pertengahan April sudah sebagian besar wilayah NTT tertangani dengan kerja keras PLN beserta kru baik siang maupun malam,” ujarnya.

Listrik merupakan salah satu andalan bagi pergerakan ekonomi NTT.

“Bisa dibayangkan pada hari pertama listrik padam semua pelayanan umum macet dan banyak toko tutup, sehingga pemerintah menyampaikan rasa bangga atas prestasi yang dicapai PLN NTT yang hingga Minggu (10/5), pemulihan capai 100 persen dimana GM turun langsung ke daerah terpencil,” ujarnya.

Perlu juga belajar dari bencana yang terjadi untuk mengantisipasi dampak daripada bencana dengan mendirikan bangunan tahan bencana dan melakukan upaya antisipasi dalam rangka pemulihan.

Selain mengapresiasi PLN, patut juga diapresiasi rekan di Posko Bencana yang terus membagikan bantuan kepada warga yang terdampak bencana.

Leave a Comment