Siswa SDK Lewotolok 1 PTM di Bawah Pohon

Guru SDK Lewotolok 1 Philipus Kelen sedang memberikan pelajaran kepada siswa kelas 3 di bawah naungan pohon asam di lokasi pengungsian Bencana Seroja, Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Sabtu (25/9). Foto: MI/Alexander P Taum
Guru SDK Lewotolok 1 Philipus Kelen sedang memberikan pelajaran kepada siswa kelas 3 di bawah naungan pohon asam di lokasi pengungsian Bencana Seroja, Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Sabtu (25/9). Foto: MI/Alexander P Taum

Daerah yang pernah dikunjungi Presiden Joko Widodo akibat badai Seroja pada April 2021 lalu, ternyata lalai mengurus 120 siswa SDK Lewotolok 1, Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata. Mereka saat ini menjalani pembelajaran tatap muka (PTM) di bawah naungan pohon dan tenda darurat.

Pada Sabtu (25/9) pagi, Mai Mai Sesilia Wasaru, siswi kelas 6 SDK Lewotolok 1, sudah bergegas ke sekolah. Pagi itu, Mai ditugaskan menyiapkan terpal dan mengaturnya sebagai lantai ruangan kelas.

Ia harus beranjak dari pondok tempat ia dan keluarga mengungsi akibat rentetan bencana erupsi gunung berapi Ile Lewotolok dan banjir bandang menerjang desanya, Amakaka, 4 April 2021.

Sejak gedung sekolah disapu bencana banjir bandang, SDK Lewotolok 1 itu dipindahkan ke Kalabahi 2. Kepala SDK Lewotolok Satu, Barnabas Butu, terpaksa memilih lokasi sekolah itu karena di sekitar itulah rata-rata warga korban badai Seroja asal Desa Amakaka mengungsi. Pemandangan memprihatinkan langsung menyambut, ketika tiba di lokasi sekolah darurat SDK Lewotolok 1. Tampak tenda bantuan berwarna putih sudah mulai koyak. Debu tebal menempel di dinding tenda itu. Di ruang kelas darurat itu, ibu guru Lidvina Deram sedang mengajar belasan siswa kelas satu dan dua sekaligus.

Dua kelas ini terpaksa digabung karena ketiadaan sarana lain. Hal serupa juga dialami siswa kelas 5 dan 6. Mereka harus berbagi ruangan yang sama dengan dua rombongan belajar berbeda.

Guru Frans Ola Bagi mengajar siswa kelas 5, sedangkan Guru Wenseslaus Kuma mengajar siswa kelas 6. Kedua guru itu harus pandai mengatur intonasi. Dengan demikian, suara tidak mengganggu guru dan siswa lain yang sedang belajar di ruangan yang sama.

Seluruh siswa duduk bersila di lantai terpal. Ada pula yang terpaksa mengambil posisi tiduran guna menghalau pegal karena duduk bersila. Di arah utara, ada aktivitas belajar mengajar di bawah naungan Pohon asam. Guru Philpus Kelen, sedang mengajar siswa kelas 3. Sedangkan siswa kelas 4 sedang diajar Modesta Telupun. Dua kelas ini pun berdampingan karena ada dua pohon asam rindang yang juga berdampingan.

Di tempat itu, siswa belajar hanya beralaskan terpal. Sedangkan guru duduk di kursi plastik bantuan dan papan white board membantu proses belajar. Mai mengaku tidak nyaman belajar di sekolah darurat. Ia membutuhkan kursi, meja, buku, dan gedung untuk belajar lebih nyaman. “Saya meminta pemerintah tolong kami agar punya sekolah sehingga belajar lebih semangat lagi. Setiap hari jam 08.00-11.00 kami harus belajar di sekolah ini,” ujar Sesilia.

Guru Wenseslaus Kuma menjelaskan, meski dengan kondisi darurat, dirinya memiliki beban moril jika tidak mengajar anak-anak sekolah yang telah dibimbingnya dari kelas 1 hingga kelas 6 saat ini.

“Kami sedang menanti realisasi bantuan dari anggota Komisi IV DPR Sulaiman Hamzah untuk membangun gedung sekolah karena akan musim hujan,” ujar Kepala SDK Lewotolok I, Bernadus Butu, Sabtu (25/9). Anggota DPR RI asal Partai NasDem itu menjanjikan bantuan berupa 200 lembar seng, uang tunai Rp20 juta, dan white board 8 unit.

“Saya jadi orang karena SDK Lewotolok 1. Sebetulnya Pemda kabupaten mendahulukan itu. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban Bapak Kepala Sekolah, guru dan para siswa menghadapi PTM,” ujarnya saat berkunjung ke lokasi, Senin (13/9) lalu. (mi/R-01)

Leave a Comment