Enam Jam dalam Kabut Fatumnasi

Kabut tebal menyelimuti puncak Cagar Alam Mutis di Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Gambar diabadikan belum lama ini. Foto:Putra vn

Putra B Mula

DESIR angin yang tenang di antara pinus dan pepohonan purba. Bising kendaraan terlupa. Dingin menebal tiap menit dan rerumputan yang tak bisa dibiarkan kering. Aspal dan antrean kendaraan di lampu merah kota terlupa. Kabut Fatumnasi membersihkan semua kepenatan dan menjelma seperti lorong waktu.

Jarak pandang hanya sekitar lima meter menuju Cagar Alam Mutis dari barisan hutan pinus. Itu jarak pandang terpendek semenjak VN menempuh jantung Kota Soe dan memasuki Kapan, kota kecil di Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan. 17 kilometer lagi dengan mobil di pukul 06.46 Wita pada 13 Mei itu sebelum tiba di Fatumnasi.

Semakin dekat dengan gerbang Cagar Alam Mutis kabut pun makin menebal. Beberapa warga di luar rumah mengenakan jaket tebal, diantaranya adalah ibu-ibu yang menggotong sayuran. Mereka menutup kepala dan telinga dengan tudung jaket. Pintu-pintu rumah masih tertutup rapat. Kabut merambatkan desir angin di antara pinus.

Bukit Bikium tidak tampak jelas dan tiba-tiba saja moncong mobil hampir bertemu dengan pantat truk proyek yang terparkir di tepi jalan. Kabut benar-benar tebal dan memang jalan menuju cagar alam itu sedang diperbaiki bersamaan dengan drainase. Tiang-tiang hijau yang menghantarkan listrik berdiri sepanjang tepi jalan. Sinyal telepon dan internet hampir menghilang.

Rumah-rumah dari kayu masih banyak berdiri, khususnya dapur bergaya tradisional yang beratap daun dan terpisah dari rumah utama.

Kumpulan hutan bonsai ampupu ditemukan pukul 07.30 Wita. Sejuk seluruhnya dan kabut benar-benar tipis saat itu. Paru-paru menjadi baru dengan itu. Sepatu ikut lembab.

Selepas itu kabut menyerbu saat VN berjalan kaki ke padang. Perjalanan tak ringan sepanjang lima kilometer itu. Tanah lembab. Dingin menyusup di pundak ke seluruh tubuh. Langkah kaki jadi tak ringan dengan tanah yang makin basah.

Salah seorang pengunjung menyusuri jalan menuju puncak Cagar Alam Mutis di Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Gambar diabadikan belum lama ini. Foto:Putra vn

Jalur yang harusnya mudah dilewati kini lebih rumit dilintasi kaki karena bekas jalur mobil off road yang becek. Licin juga saat jalan menanjak. Motor trailer ikut terjerembab ke dalam lumpur dan licin di atas bebatuan. Jalan kaki dalam kabut adalah pilihan terbaik.

Bukit bebatuan di samping kiri kanan tampak luar biasa. Beberapa ekor monyet lari bersembunyi di puncak bebatuan itu. Kicaun burung ikut melenting di antara pepohonan raksasa yang berlumut dan sudah berumur tua.

Barulah pukul 10.00 Wita setelah jalan kaki panjang itu VN tiba di padang luas. Kabut dan angin menyerang dengan hebat. Hanya suara angin menguasai. Sesekali kabut itu menghilang dan indahnya hamparan bukit kecil dan dataran hijau terpampang indah. Salah satu bukit itu jadi tempat makan siang dengan bekal ikan yang dibawa. Ikan goreng dengan sambal menari di lidah sementara tubuh dibungkus kabut yang seakan membeku.

Tidak ada sampah yang dibiarkan berterbangan lalu kemudian mengambil momen foto bersama. Cukup lama alam itu diresapi. Tak ada yang datang saat itu. Suara burung ada di mana-mana.
Kabut mulai menipis justru saat memutuskan pulang. Tepat di bawah pohon besar yang di tanah lapang saat itu kami beristirahat, rebah sejenak setelah perjalanan itu, pukul 12.30 kurang lebih.

Pada 13.22 kami meninggalkan Fatumnasi yang asri. Kabut pun menghilang. Pengerjaan drainase sudah dimulai. Truk-truk sibuk membawa material. Para pengunjung mulai ramai naik ke cagar alam itu. (yan/ol)

Leave a Comment