Sepenggal Kisah dari Posko Pengungsian Badai Seroja di Kota Kupang

Suasana di Posko pengungsian korban badai seroja di Kota Kupang, beberapa waktu lalu. Foto:Putra B Mula vn

Putra Bali Mula

Asnat Sanaunu bersama keluarganya (Berjumlah tujuh orang) menjadi penghuni posko 2 di Kampung Amanuban, Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Provinsi NTT.

Posko tersebut menampung 24 KK dan 86 jiwa, korban badai Seroja dan longsor yang terjadi pada 4 hingg 5 April 2021 lalu.

Kepada media beberapa waktu lalu, Asnat menuturkan, rumahnya rusak berat akibat diterjang banjir luapan dari kali dan longsor yang menimpah rumahnya. Pada tanggal 4 April 2021, rumahnya yang juga merupakan Gereja Injili di Timor (GIDI) berukuran 15×9 meter itu menjadi tempat pengungsian warga sekitar. Namun banjir dan longsor yang terjadi pada 5 April membuat rumahnya terendam lumpur dan luapan air, sehingga ia beserta para pengungsi yang tinggal di rumahnya hingga kini harus mengungsi ke Posko 2.

“Itu bukan banjir biasa, bergumpal-gumpal, berasap begitu, sudah meluap dari jalur kali dan itu ada rumah-rumah yang hanyut,” kisah Asnat.

Trauma

Listrik yang mati total pada malam saat  badai Seroja melanda Kota Kupang dan NTT umumnya menambah kengerian di malam itu. Badai yang kian kencang dan banjir deras menyapu tembok rumahnya di tengah kegelapan. Mereka kalut, memutuskan sekejap untuk menyelamatkan diri atau mengambil harta benda.

“Masing-masing cari jalan sendiri selamatkan diri, tinggalkan harta benda. Itu tengah malam jam 1 (Senin 5 April dini hari) sudah tidak ada tempat untuk tidur,” tuturnya.

Ia trauma berat hingga sekarang bahkan tidak berani melihat puing-puing rumahnya yang terendam lumpur. Hanya suaminya, Pendeta Baber Karoba, yang menyempatkan diri ke tempat terjadinya longsor guna  melihat harta benda miliknya yang mungkin masih dapat digunakan.

Ia bersama suami dan anak-anaknya hanya bisa pasrah dan menunggu jalan keluar yang diberikan pemerintah yaitu relokasi. Ia diberitahukan kalau posko yang sebelumnya dibuka sampai dengan 5 Mei kini diperpanjang hingga 18 Mei mendatang.

Hidup Andalkan Bantuan

Selama di posko, Asnat dan pengungsi lainnya hidup mengandalkan sembako bantuan baik dari pemerintah, lembaga swasta, gereja maupun warga yang merasa peduli. Dengan peralatan dapur seadanya, mereka memasak makanan kebutuhan keluarganya masing-masing, sebab tak ada dapur umum di posko tersebut. Di antara mereka sering berbagi makanan. Listrik dan air dipakai bersama karena dibantu pemerintah untuk sementara waktu.

Tampak ibu-ibu bercengkrama di Posko dan rumah-rumah warga yang dijadikan tempat pengungsian dalam satu lokasi dengan posko 2. Posko yang dibangun berupa tenda beralaskan tanah tempat anak-anak bermain. Sekat hanya kain dan lemari. Ada tujuh kepala keluarga dalam satu posko. Dua KK memiliki tempat tidur sedangkan lainnya membentang kasur dan tikar di atas tanah. Sedang pengungsi lainnya berada dalam rumah kosong tepat di samping tenda.

Tuan tanah pemilik rumah dan lahan dimana posko itu berada, menurut Asnat, ingin mereka tinggal lebih lama sampai keadaan ekonomi semua pulih dan bisa direlokasi.

“Iya, beliau tidak mau kita harus pindah kos lagi kalau posko tutup, karena relokasi belum tahu kapan, jadi kalau bisa tetap di sini. Kami kalau pindah kos juga takut pikiran sendiri-sendiri mending sama-sama begini,” katanya.

18 Balita dan Tujuh Ibu Hamil

Di Posko 2 kampung Amanuban, Kota Kupang, terdapat 18 Balita dan satu ibu hamil. Para pengungsi mengakui kebutuhan logistik dan obat-obatan selama di posko terjamin. Namun tinggal berhimpitan dengan ruang privasi yang terbatas di tambah lagi rewelnya 18 Balita saat waktu istirahat membuat situasi kurang nyaman dalam tiga pekan terakhir.

Ella Tikan adalah wanita 28 tahun dengan usia kandungan 7 bulan. Ia salah satu dari 7 ibu hamil yang ada di posko ini. Soal pemeriksaan kesehatan dan kandungannya tidak diragukan Ella. Pihak puskesmas sering datang memeriksa langsung. Begitu pula dengan obatan-obatan dan kebutuhan khusus wanita, ia rasa cukup terpenuhi.

Saat ini Ella hanya menunggu kepastian kapan tepatnya relokasi dilakukan sehingga ia bisa mempersiapkan diri menghadapi proses persalinan anak pertamanya itu.

Ia mengaku kurang tidur semenjak bencana. Wanita yang baru setahun menikah ini mengungkapkan tekanan yang ia rasakan. Wajahnya pucat. Tidak panjang jawaban yang ia berikan. Saat malam petaka itu, cerita Ella, ia sempat digotong suami dan tetangga menyeberangi tembok rumahnya, guna menghindari longsor yang mendekati langkah kakinya. Rumahnya sekarang tinggal puing-puing. (Yan/ol)

Leave a Comment