Belalang Kembara Serang Lahan Jagung Malumbi

Petani di Kelurahan Malumbi, Diki Langga Njanji menunjukkan sisa batang jagung yang habis dimakan belalang, Sabtu (5/6). Foto: Jumal/VN
Petani di Kelurahan Malumbi, Diki Langga Njanji menunjukkan sisa batang jagung yang habis dimakan belalang, Sabtu (5/6). Foto: Jumal/VN

 

Jumal Hauteas

Belalang kembara kembali menyerang dan menghabiskan tanaman jagung petani di Kelurahan Malumbi, Kecamatan Kambera, Sumba Timur, NTT.

Ini merupakan serangan belalang kedua kalinya di tahun 2021, setelah serangan pertama Januari lalu.

Serangan kali ini menghabiskan dua petak jagung milik Diki Langga Njanji (61) yang ditanam di lokasi persawahan sejak Mei lalu. Saat ini jagungnya sudah tumbuh dengan tinggi antara 30-40 cm. Namun, belalang kembara menghabiskan tanaman jagung Diki hanya dalam beberapa jam.

“Jagungnya sedikit hanya sekitar dua are, tetapi sudah umur satu bulan jadi sudah tinggi dan belalang makan kasih habis tidak sampai satu hari,” jelas Diki Langga Njanji kepada VN, di kebunnya Sabtu (5/6).

Ia menjelaskan ini adalah aetanhan kedua di tahun 2021. Sebelumnya terjadi di bulan Januari.

Menurutnya, serangan belalang pada Januari lalu menghabiskan tanaman jagung sekitar 4 Ha karena saat itu masih musim penghujan sehingga tanaman jagung petani masih penuh di lahan pertanian warga.

“Mulai dari Kahawa, Marada, sampai Bundu Bela semua habis dimakan belalang,” jelasnya.

Menurutnya, setelah daun jagung habis dimakan belalang, jagung petani yang sudah berusia dua bulan dan mulai berbunga tersebut masih kembali tumbuh tetapi tidak semua menghasilkan buah sehingga masyarakat petani di wilayah tersebut semuanya mengalami gagal panen karena belalang.

“Hanya satu-dua pohon saja yang ada buah. Banyak yang tidak,” urainya.

Petani di Kelurahan Malumbi, Kuanga Wandar membersihkan tanaman sayurnya Sabtu (5/6) dan berharap tidak dimakan kawanan belalang yang masih ada di kebun mereka. Foto: Jumal/VN

Petani di Kelurahan Malumbi, Kuanga Wandar membersihkan tanaman sayurnya Sabtu (5/6) dan berharap tidak dimakan kawanan belalang yang masih ada di kebun mereka. Foto: Jumal/VN

Petani lainnya, Kuanga Wandar (55) menambahkan belalang yang ada di kebun mereka saat ini sudah menginap tiga malam karena belalangnya turun di lahan mereka Rabu (2/6) petang dan masih bertahan di sana sampai saat ini. Namun, karena turunnya sore hari, belalang tidak memakan tanaman jagung milik mereka.

“Belalang turun hari Rabu (2/6) sore tetapi baru makan jagung hari Kamis (3/6) dan belum malam jagung sudah habis dimakan,” jelas Kuanga.

Kuanga menuturkan belalang kembara tersebut tidak hanya memakan tanaman jagung mereka namun juga bertelur sehingga saat ini tidak hanya belalang dewasa namun juga ada belalang anak yang baru mulai melompat dan belum bisa terbang.

Diki dan Kuanga masih bersyukur karena kawanan belalang tersebut hanya memakan tanaman jagung sedangkan tanaman sayuran mereka sampai saat ini tidak diganggu belalang.

Keduanya mengaku sudah ada petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Sumba Timur yang mendatangi mereka dengan membawa peralatan semprot dan menanyakan ada tidaknya belalang kecil untuk disemprot. Namun, karena tidak ada akses jalan masuk kendaraan, tim brigade penyemprot belalang memilih langsung pulang.

“Coba kalau ada tengki semprot, mereka (Dinas Pertanian dan Pangan) bisa kasih kita dengan obat supaya kita yang semprot,” kesal Diki.

Keduanya berharap walau kawanan belalang makin banyak nantinya setelah belalang kecil bertumbuh menjadi belalang dewasa, tetap tidak makan tanaman sayuran yang ada. Hanya itu harapan mereka sayuran yang ada karena jagung sebelumnya habis dimakan belalang dan kemudian banjir bandang juga menghanyutkan banyak tanaman lain mereka di kebun.

“Kami hanya berharap di sayur ini sudah. Karena kami tidak bisa kerja lain lagi selain menanam di tanah kami ini,” tandas keduanya.(bev/ol).

Leave a Comment