Segera Dibangun, Bendungan Mbay Telan Dana Rp1,4 Triliun

Direktur Bendungan dan Danau, Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Airlangga Mardjono dan Kepala BWS NT2 Agus Sosiawan melakukan penandatanganan Kontrak Kerja pembangunan Bendungan Lambo bersama PT. Waskita Karya, PTM Bumi Indah dan PT Brantas Abipraya, Kamis (19/8) di Kantor BWS-NT2 Kupang. Istimewa

Kekson Salukh

SELAMA masa pemerintahannya sejak 2014, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah tiga kali meresmikan pembangunan tiga bendungan yang menelan anggaran triliunan rupiah di Provinsi NTT. Menyusul di 2022, dua bendungan lagi yang akan rampung yaitu Bendungan Temef (TTS) dan Bendungan Manikin (Kab. Kupang).
Tak hanya sampai di situ, pada tahun 2024 mendatang, dijadwalkan satu bendungan lagi yaitu Bendungan Lambo, di Mbay di Kabupaten Nagekeo yang bisa diresmikan Presiden Jokowi.

Kepastian tersebut tersaji ketika dilakukan penandatanganan Kontrak Kerja antara Pemerintah Pusat melalui Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara 2 (BWS-NT2), Kementerian PUPR, dan PT. Waskita Karya- PTM Bumi Indah KSO untuk Paket I dan PT. Dan PT Brantas Abipraya untuk Paket II, Kamis (19/8) di Kantor BWS-NT2 Kupang.

“Ini Program Pemerintah Pusat untuk mengatasi masalah air bersih di NTT. Kerena itu, kontraktor pelaksana memanfaatkan anggaran seefektif dan efisien mungkin. Kerja harus cepat, tepat, rapih dan bagus sehingga menjadi ikon di daerah,” tandas Direktur Bendungan dan Danau, Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR Airlangga Mardjono dalam sambutannya.

Airlangga menjelaskan, Bendungan Mbay akan menampung 51,74 juta meter kubik air, dengan 205 liter/detik air baku. Selain itu, akan disuplai di areal sawah di Mbay kiri 932,6 ha serta Mbay Kanan 4.966 ha.

Informasi yang dihimpun VN menyebutkan, proyek pembangunan Bendungan Lambo akan menghabiskan anggaran sebesar Rp1,4 triliun. Pekerjaan konstruksi pembangunan Bendungan Lambo dilaksanakan secara multi years selama 4 tahun anggaran, terhitung sejak 2021 sampai dengan 2024.

Terpisah, Kepala BWS NT2 Agus Sosiawan menambahkan, penandatangan Kontrak pembangunan Bendungan Mbay adalah langkah penting mengatasi kesulitan air besih di Provinsi NTT.

“Untuk mengatasi kekeringan di NTT, Presiden telah menetapkan 7 bendungan untuk NTT. Tapi sampai saat ini baru 6 bendungan yang dikerjakan. Sedangkan bendungan ketujuh yakni Bendungan Welikis masih dalam perencanaan,” beber Agus.

Masuk Lima PSN

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara (Kanwil DJPN) Provinsi NTT Tri Bhudianto
mengungkapkan bahwa pembangunan Bendungan Napung Gete, Temef, dan Manikin masuk dalam lima proyek strategis nasional.

Kanwil DJPN) Provinsi NTT mencatat, progress atau kemajuan pengerjaan lima proyek strategis di NTT sampai akhir Juli 2021 rata-rata sudah mencapai 62-97 persen. (lihat grafis)

Dirincinkan, pembangunan Bendungan Napun Gete berlokasi di Desa Ilinmedo dan Desa Werang Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka sudah mencapai 62,12 persen. Bendungan Temef yang berlokasi di Desa Konbanki, Kecamatan Polen dan Desa Oenino, Kecamatan Oenino, TTS, sudah 97 parsen, dan Bendungan Manikin di Desa Kuaklalo yang berbatasan dengan Desa Bokong, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, sudah mencapai 74 parsen.

Sedangkan dua proyek lain adalah pembangunan Terminal Multipurpose Wae Kelambu, Pelabuhan Labuan Bajo Manggarai Barat, realisasinya sudah mencapai 86,40 persen.
Dan pembangunan jalan poros tengah di Kabupaten Kupang sepanjang 15,3 km, progresnya baru mencapai 46,25 persen. “Ini merupakan pembangunan Jalan Strategis Nasional menuju lokasi Observatorium yang merupakan observatorium terbesar di Asia Tenggara dengan target penyelesaian tahun ini,” pungkasnya. (paa/ari/yan/ol)

Leave a Comment